Senin, 21 Mei 2012


Koreksi Radiometri
Koreksi radiometri ditujukan untuk memperbaiki nilai pixel supaya sesuai dengan yang seharusnya yang biasanya mempertimbangkan faktor gangguan atmosfer sebagai sumber kesalahan utama.  Efek atmosfer menyebabkan nilai pantulan objek dipermukaan bumi yang terekam oleh sensor menjadi bukan merupakan nilai aslinya, tetapi menjadi lebih besar oleh karena adanya hamburan atau lebih kecil karena proses serapan.  Metode-metode yang sering digunakan untuk menghilangkan efek atmosfer antara lain metode pergeseran histogram (histogram adjustment), metode regresi dan metode kalibrasi bayangan (Projo Danoedoro, 1996).
Koreksi radiometrik dapat dilakukan menggunakan metode yang paling sederhana, yaitu penyesuaian histogram.  Adapun tekniknya adalah dengan cara mengurangi digital number (nilai pixel) citra asli masing-masing saluran tunggal dengan nilai bias yang ada pada masing-masing citra tersebut.  Koreksi radiometrik yang umum dilakukan adalah menghilangkan pengaruh haze (gambar yang buram). (Anonim, 2012)
 Pemilihan metode ini dilandasi oleh alasan bahwa metode ini cukup sederhana, waktu yang digunakan untuk pemrosesan lebih singkat dan tidak memerlukan perhitungan matematis yang rumit.  Asumsi dari metode ini adalah dalam proses koding digital oleh sensor, objek yang memberikan respon spektral yang paling rendah seharusnya bernilai 0.  Apabila nilai ini ternyata melebihi angka 0 maka nilai tersebut dihitung sebagai offset dan koreksi dilakukan dengan mengurangi seluruh nilai pada saluran tersebut dengan offset-nya. (Anonim, 2012)
Koreksi radiometrik dilakukan untuk memperbaiki kesalahan atau distorsi yang diakibatkan oleh ketidak sempurnaan operasi dan sensor, adanya atenuasi gelombang elektromagnetik oleh atmosfer, variasi sudut pengambilan data, variasi sudut eliminasi, sudut pantul dan lain-lain yang dapat terjadi selama pengambilan, pengiriman serta perekaman data. Spesifikasi kesalahan radiometric adalah :
§  Kesalahan sapuan akibat pemakaian Multi Detektor dalam mengindera garis citra.
§  Memperkecil kesalahan pengamatan detektor yang berubah sesuai dengan perubahan waktu.
§  Kesalahan berbentuk nilai digital yang mempunyai hubungan linier dengan tingkat radiasi dan panjang gelombang elektromagnetik.
§  Koreksi dilakukan dengan kalibrasi cahaya yang keluar dari detektor dengan mengarahkan scanner pada filter yang disinari secara elektronik untuk setiap sapuan.
§  Kesalahan yang dapat dikoreksi otomatis adalah kesalahan sistematik dan tetap, yang tetap diperkirakan sebelumnya.
§  Kesalahan garis scan dapat dikoreksi dengan penyesuaian histogram tiap detektor pada daerah-daerah homogeny misalnya diatas badan air, apabila ada penyimpangan dapat diperbaiki.
§  Kesalahan bias atau pengaturan kembali detektor apabila mean dan median detektor berbeda.
Metode-metode yang sering digunakan untuk menghilangkan efek atmosfer antara lain metode pengeseran histogram, metode regresi, dan metode kalibrasi bayangan (Sutanto, 1986).

Penyesuaian Histogram
Penyesuaian histogram (histogram adjusment) meliputi evaluasi histogram pada setiap band dari data penginderaan jauh.  Biasanya data pada panjang gelombang tampak (TM saluran 1-3) mempunyai nilai minimum yang lebih tinggi karena dipengaruhi oleh hamburan atmosfir.  Sebaliknya penyerapan atau absorbsi pada atmosfie akan mengurangi kecerahan pada data yang direkam dalam interval panjang gelombang yang lebih besar seperti TM 4,5,7.  Sehingga data pada band ini nilai minimumnya mendekati nilai nol. 
Algoritma yang dipergunakan untuk koreksi radiometri mengikuti formula sebagai berikut :  Output BV . Dimana :
- Input: input pixel pada baris I dan kolom j dari band k
- Output : nilai pixel yang dikoreksi pada lokasi yang sama
- Bias : Selisih nilai minimal dan nilai nol pada saluran k
- BV : brightness value atau nilai kecerahan
Pada prinsipnya algoritma ini mengurangi nilai bias dengan nilai bias nilai kecerahan pada band tertentu-nya. (Anonim, 2012)
 Penyesuaian Regresi
            Penyesuaian regresi (regression adjusment) pada prinsipnya menghendaki analisis untuk mengidentifikasi objek bayangan atau air jernih pada citra yang akan dikoreksi.  Nilai kecerahan pada objek dari setiap saluran di plotkan dalam sumbu koordinat secara berlawanan arah antara saluran tampak (seperti TM saluran 1, 2, 3) dan saluran infra merah (seperti TM 4,5,7).  Pada diagram ini garis lurus dibuat menggunakan teori least square. Perpotongannya dengan sumbu X akan menunjukkan besarnya nilai bias demikian seterusnya untuk saluran yang lain. Penyesuaian histogram ini melewati beberapa tahap, dan hasilnya tidak selalu naik.  Hal ini disebabkan karena tidak setiap citra mempunyai nilai objek yang ideal untuk dikoreksi, seperti air jernih atau bayangan awan. Dibandingkan dengan teknik penyesuaian histogram hasilnya tidak jauh berbeda.(Anonim, 2012)
            Koreksi geometri adalah proses perbaikan sesalahan geometric dan transformasi citra penginderaan jauh agar memberikan hasil citra yang mempunyai skala tertentu dan mengikuti proyeksi peta tertentu.  Dikenal 3 istilah dalam pengkoreksian geometric yakni rektifikasi, orthorektifikasi, dan regresi.  Rektifikasi adalah proses transformasi kordinat citra digital ke dalam sistem kordinat bumi tertentu.  Proses ini kadang kala disebut dengan ‘warping’ ataupun ‘rubbersheeting’, karena citra seperti ditarik ataupun dimampatkan supaya terjajar dengan sistem kordinat bumi. 
            Orthorektifikasi adalah rektifikasi yang lebih akurat karena menggunakan atau mengukur informasi mengenai sensor dan wahana yang dipakai untuk  memproduksi citra tersebut.  Biasanya orthorektifikasi dilakukan untuk mengoreksi foto udara.  Registrasi secara sederhana adalah menjajarkan dua buah citra sehingga dapat  saling bertumpangtindih (overlaid), tanpa memperdulikan apakah kedua citra tersebut telah direktifikasi pada sistem kordinat tertentu atau tidak. 
            Penyesuaian regresi (Regression Adjusment) diterapkan dengan memplot nilai-nilai pixel hasil pengamatan dengan beberapa saluran sekaligus. Hal ini diterapkan apabila ada saluran rujukan (yang relatif bebas gangguan) yang menyajikan nilai nol untuk obyek tertentu. Kemudian tiap saluran dipasangkan dengan saluran rujukan tersebut untuk membentuk diagram pancar nilai pixel yang diamati. Cara ini banyak mengalami gangguan atmosfer yang terjadi hampir pada semua spektra tampak dan saluran. Penyesuaian ini melewati beberapa tahap, dan hasilnya tidak selalu naik. Hal ini disebabkan karena tidak setiap citra mempunyai nilai objek yang ideal untuk dikoreksi, seperti air jernih atau bayangan awan. Dibandingkan dengan teknik penyesuaian histogram hasilnya tidak jauh berbeda. (Projo Danoedoro, 1996).

DPC (Dark Pixel Correction)
            Jika tidak ada atmosfer, bayangan pada semua permukaan bumi akan sepenuhnya hitam baik itu darat ataupun laut, sehingga kita sulit untuk membedakannya. Oleh karena itu jika bayangan memiliki nilai diatas 0, itu menandakan bahwa hamburan dari atmosfer memiliki kontribusi untuk bayangan.
DPC atau Dark Pixel Correction adalah koreksi sederhana untuk menghilangkan pengaruh atmosfer yang cenderung memperbear nilai pixel.
            Salah satu cara untuk mengkoreksi efek atmosfer adalah mengidentifikasi bayangan pixel, menemukan nilai DN (Digital Number) dan mengubahnya menjadi 0 dan atur semua pixel lainnya .


    EDPC (Enchanted Dark Pixel Correction)
Hasil akurat dari deteki perubahan terhadap dua atau lebih citra waktu ditentukan oleh beberapa faktor; seperti citra yang sebanding, citra yang dapat diinterpretasikan, dan metode untuk mendapatkan perbedaan yang bermakna dari deteksi perubahan citra. Pixel ke pixel antara citra biasa ditampilkan untuk mendapatkan citra yang baik. Dark Pixel Correction ditampilkan untuk mengkoreksi kesalahan radiometrik dari suatu citra, maka Enhance sebagai hasilnya lebih  diinterpretasi untuk aplikasi tertentu. Dengan mengurangkan masing – masing band dengan minimum digital number value – nya, maka setiap band akan memiliki minimal digital number dari nol
                    
Cut-off Scattergram
Cara lain untuk mengkoreksi citra dari efek atmosfer adalah dengan menggunakan informasi cut-off yang ditentukan dari scattergram antara panjang gelombang (TM 7) yang lebih panjang dan panjang gelombang (salah satu dari TM 1-5) yang lebih pendek. Panjang gelombang yang lebih panjang berada di gelombang infrared pendek yang mempunyai nilai hamburan atmosfer minimum, di lain pihak panjang gelombang yang lebih pendek berada di batas cahaya tampak yang berdekatan dengan batas infrared dan batas gelombang infrared pendek yang mempunyai efek lebih besar. Garis terbaik digambarkan menembus distribusi antara dua bands yang dihalangi poros panjang gelombang lebih pendek pada pendekatan digital number komponen penghambur. Penyelesaian hal semacam ini menggunakan cut-off.         


Satelit Ikonos

          Satelit IKONOS adalah satelit resolusi tinggi yang dioperasikan oleh GeoEyeberasal dari bawah Lockheed Martin Corporation sebagai Commercial Remote Sensing Sistem (CRSS) satelit. Pada April 1994 Lockheed diberi salah satu lisensi dari US Department of Commerce untuk satelit komersial citra resolusi tinggi. Pada tanggal 25 Oktober 1995 perusahaan mitraSpace Imaging menerima lisensi dari Komisi Komunikasi Federal (FCC) untuk mengirimkan telemetri dari satelit di Bumi delapan-gigahertz band Exploration Satellite Service. Sebelum memulai, Space Imaging mengubah nama untuk satelit IKONOS. IKONOS berasal dari bahasa Yunani yang berarti "gambar".
          Aplikasinya  untuk  pemetaan sumberdaya  alam daerah pedalaman dan perkotaan, analisis bencana alam, kehutanan, pertanian, pertambangan, teknik konstruksi, pemetaan perpajakan, dan deteksi perubahan. Mampu menyediakan data yang relefan untuk studi lingkungan. Pada awalnya dua satelit direncanakan untuk operasi. Peluncuran IKONOS-1 pada tahun 1999 gagal ketika payload hadiah dari Athena roket, gagal untuk memisahkan dan mencegah satelit mencapai orbit. Lalu, IKONOS-2 yang semula direncanakan untuk diluncurkan pada 2000, berhasil diluncurkan pada 24 September 1999 dari Space Launch Complex 6 (SLC-6) di Vandenberg Air Force Base di California. Sensor pencitraan panchromatic dan multispectral. Satelit ini memiliki kutub, lingkaran, matahari-sinkron 681-km orbit dan keduanya sensor memiliki petak lebar 11 km. Beratnya adalah 1600 pound (720kg).
          Pada November 2000 Lockheed Martin menerima "Best of What's New" Grand Award dalam kategori Penerbangan & Ruang Angkasa dari majalah Popular Science. Space Imaging diakuisisi oleh ORBIMAGE pada bulan September 2005. Perusahaan ini kemudian diganti namanya menjadi GeoEye. Kemampuannya yang terliput adalah mencitrakan dengan resolusi multispektral 3,2 meter dan inframerah dekat (0,82mm) pankromatik. Aplikasinya untuk pemetaan sumberdaya alam daerah pedalaman dan perkotaan, analisis bencana alam, kehutanan, pertanian, pertambangan, teknik konstruksi, pemetaan perpajakan, dan deteksi perubahan. IKONOS yang mampu menyediakan data yang relevan untuk studi lingkungan serta pandangan udara dan foto satelit untuk banyak tempat di seluruh dunia mulai dijual pada tanggal 1 Januari 2000. 
IKONOS adalah 3-sumbu spacecraft distabilkan oleh Lockheed Martin.   Desain kemudian dikenal sebagai sistem bus satelit LM900. Sikap satelit diukur oleh dua bintang pelacak dan matahari sensor dan dikendalikan oleh reaksi empat roda; pengetahuan lokasi disediakan oleh penerima GPS. Desain kehidupan adalah 7 tahun; S / C ukuran tubuh = 1,83 mx 1,57 m (heksagonal konfigurasi); S / C massa = 817 kg; daya = 1,5 kW yang disediakan oleh 3 panel surya.  Pesawat ruang angkasa yang LM900 adalah stabil tiga-sumbu bus yang dirancang untuk membawa muatan ilmiah di LEOs. Memberikan presisi menunjuk pada ultra stabil sangat tangkas platform. Payloads untuk berbagai ilmiah dan aplikasi penginderaan jarak jauh dapat ditampung termasuk sensor laser, pencitra, sensor radar, elektro-optik dan astronomi sensor, serta sensor planet.
                                                                            (http://www.satimagingcorp.com)
          Bus saham yang LM900 warisan hardware dengan Iridium, yang merupakan dasar untuk LM700 bus.  Resolusi nya merupakan radiometrik, berarti data IKONOS dikumpulkan sebagai 11 bit per pixel (2048 warna abu-abu), sehingga ada lebih banyak definisi dalam nilai-nilai skala abu-abu dan kita dapat melihat lebih detail dalam foto.
Dalam rangka memperoleh manfaat dari informasi tambahan ini, kita akan memerlukan perangkat lunak pengolah gambar spesialis.
Gambar 3.1 Satelit IKONOS pada Orbitnya; Contoh Hasil Citra IK

            Ikonos adalah satelit milik Space Imaging (USA) yang diluncurkan bulan September 1999 dan menyediakan data untuk tujuan komersial pada awal 2000. Ikonos adalah satelit dengan resolusi spasial tinggi yang merekam data multispektral 4 kanal pada resolusi 4 m (citra berwarna) dan sebuah kanal pankromatik dengan resolusi 1 m (hitam-putih). Ini berarti Ikonos merupakan satelit komersial pertama yang dapat membuat gambar beresolusi tinggi.

Band Width
Resolusi
Spasial
Panchromatic
0.45 – 0.90µm
1 meter
Band 1
0.45 – 0.53µm (blue)
4 meter
Band 2
0.52 – 0.61µm (green)
4 meter
Band 3
0.64 – 0.72µm (red)
4 meter
Band 4
0.77 – 0.88µm (near infra-red)
4 meter

Karakterisik Satelit Ikonos
     1. Tanggal Peluncuran 24 September 1999 at Vandenberg Air Force Base, California, USA 
     2. Masa Operasi 7 tahun lebih
     3. Orbit 98.1 derajad, sun synchronous
     4. Kecepatan pada Orbit 7.5 km/detik
     5. Kecepatan diatas bumi 6.8 km/detik 
     6. Kecepatan mengelilingi Bumi 14.7 kali tiap 24 jam
     7. Ketinggian 681 kilometer (Low Earth Orbit)
     8. Resolusi pada Nadir 0.82 meter (panchromatic); 3.2 meter                                       (multispectral )
     9. Resolusi 26° Off-Nadir 1.0 meter (panchromatic); 4.0 meter                                    (multispectral)
     10. Cakupan Citra 11.3 kilometer pada nadir; 13.8 kilometer pada   26°off-nadir.
     11. Waktu Melintas Ekuator 10:30 AM solar time
     12. Waktu Lintas Ulang 3 days at 40° latitude
     13. Saluran Citra Panchromatic, blue, green, red, near IR

Orbit , Resolusi, dan Sitem Komunikasi Satelit Ikonos 
     - Orbit
       Orbit: 98.1 derajat, sun synchronous 
Kecepatan pada Orbit : 7.5 km/detik 
Kecepatan diatas bumi :6.8 km/detik 
Kecepatan mengelilingi Bumi : 14.7 kali tiap 24 jam 
Ketinggian : 681 kilometer 
Masa Operasi : 7 tahun lebih 
-Resolusi
             Resolusi pada Nadir : 0,82 meter (panchromatic), 3,2 m (multispectral)
Resolusi 26° Off-Nadir :1,0 m (panchromatic) 4,0 m (multispectral) 
Cakupan Citra : 11,3 kilometer pada nadir  13,8 kilometer pada 26° off-nadir 
Waktu Melintas Ekuator : Nominal 10:30 AM waktu matahari 
Waktu Lintas Ulang : Sekitar 3 hari pada 40 ° garis lintang 
Saluran Citra : Panchromatic, blue, green, red, near IR 
Dynamic Range : 11-bit per pixel 
-   Komunikasi
Pelacak dan Kontrol : 8345.968-8346.032 MHz band (downlink
2025-2110 MHz (uplink). 
Pembawa Data Downlink : 8025-8345 MHz 
Berikut informasi ringkasan band multispectral:
Band Width/ Panjang Gelombang
Resolusi Spasial
Band 1
Band 2
Band 3
Band 4
Panchromatic
0,45 - 0.53μm (biru)
0.52 - 0.61μm (hijau)
0,64 - 0.72μm (merah)
0,77 - 0.88μm (dekat infra-merah)
0,45 - 0.90μm (PAN)
4 meter
4 meter
4 meter
4 meter
1     meter
                             

 Penginderaan Jarak Jauh
      Sabins (1996) dalam Kerle, et al. (2004) menjelaskan bahwa penginderaan jauh adalah ilmu untuk memperoleh, mengolah dan menginterpretasi citra yang telah direkam yang berasal dari interaksi antara gelombang elektromagnetik dengan sutau objek. Sedangkan menurut Lillesand and Kiefer (1993). Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji.
    Data penginderaan jauh diperoleh dari suatu satelit, pesawat udara balon udara atau wahana lainnya. Data-data tersebut berasal rekaman sensor yang memiliki karakteristik berbeda-beda pada masing-masing tingkat ketinggian yang akhirnya menentukan perbedaan dari data penginderaan jauh yang di hasilkan (Richards and Jia, 2006).
Menurut beberapa pakar penginderaan jauh dapat diartikan sebagai:
- Penginderaan jauh adalah ilmu atau seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat, tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau gejala yang akan dikaji (Lillesand dan Kiefer, dalam Sutanto, 1986).
- Penginderaan jauh merupakan teknik yang dikembangkan untuk memperoleh ldan menganalisis informaasi tentang bumi. Informasi itu berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi (lindgren, 1985).
- Penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh, menemutunjukkan (mengidentifikasi) dan menganalisis objek dengan sensor pada posisi pengamatan daerah kajian (Avery, 1986).

Untuk melakukan penginderaan jarak jauh diperlukan alat sensor, alat pengolah datadan alat-alat lainnya sebagai pendukung. Oleh karena sensor tidak ditempatkan pada objek, maka perlu adanya wahana atau alat sebagai tempat untuk meletakkan sensor. Wahana tersebut dapatberupa balon udara, pesawat terbang, satelit atau wahana lainnya Antara sensor, wahana,dan citra diharapkan selalu berkaitan, karena hal itu akan menentukan skala citra yang dihasilkan.
          Sistem Penginderaan Jauh (Sutanto, 1986). Keterangan: Sensor menangkap objek dari bumi, dimana suatu objek itu untuk bisa sampai ke sensor  membutuhkan energi dari sinar matahari sebagai sumber energi. Agar energi tesebut dapat sampai ke objek, harus melewati pembatas atau hambatan yang dinamakan atmosfer. Namun tidak sepenuhnya sinar yang datang dari matahari mengenai objek karena adanya hambatan atmosfer tersebut. Setelah itu, energi yang sampai ke objek diterima dan dipantulkan dan dipancarkan ke sensor sebagai inti dari sistem tersebut. Kemudian dari sensor mengeluarkan data digital dan data visual yang kemudian sampai ke pengguna yang ada dipermukaan bumi.

Citra
Citra indraja adalah gambaran suatu gejala atau objek sebagai hasil rekaman dari sebuah sensor,baik dengan cara optic,elektrooptik maupun elektronik.
Citra dibedakan menjadi 2:
Citra foto (photographic image)
Citra nonfoto (nonphotographic image)

CITRA FOTO
          Citra foto adalah gambaran suatu gejala dipermukaan bumi sebagai hasil pemotretan dengan menggunakan kamera.
Berdasarkan spektruk elektromagnetik yang digunakan, citra foto dibedakan menjadi 5 jenis:
1. Citra foto ultraviolet, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum ultraviolet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer.
2. Citra foto ortokromatik,yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum tampak dari warna biru hingga sebagian warna hijau(0,4-0,56 mikrometer).
3. Citra foto pankromatik yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan seluruh spectrum tampak matamulai warna merah hingga ungu.
4. Citra inframerah asli yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum inframerah dekat hingga panjang gelombang 0,9 -1,2 mikrometer yang dibuat secara khusus.
5. Citra foto inframerah modifikasi, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum inframerah dan sebagian spectrum tampak dari warna merah dan sebagian warna hijau.

 Berdasarkan arah sumbu kamera dibedakan menjadi :
1. Citra foto vertica /foto tegak /orto photograph yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi.
2. Citra foto condong /foto miring /oblique photograph yaitu dibuat dengan kamera yang menyudut terhadap garis lurus di permukaan bumi.
Citra foto condong dibedakan menjadi 2:
a. Citra foto agak condong /low oblique photograph yaitu apabila cakrawala tidak tergambar pada citra foto.
b. Citra foto sangat condong /high oblique photograph yaitu apabila cakrawala tergambar pada citra foto.

 Berdasarkan Sudut Liputan Kamera dibedakan menjadi :
1.  Sudut kecil :liputan < 60º
2. Sudut normal : liputan antara 60º -75º
3. Sudut lebar : liputan antara 75º -100º
4. Sangat lebar: liputan > 100º
Semakin lebar sudut kamera,semakin luas permukaan bumi yang diliput.

 Berdasarkan jenis kamera
1)  Citra foto tunggal yaitu citra foto yang dibuat dengan kamera tunggal.
2) Citra foto jamak yaitu citra foto yang dibuat pada saat yang sama dan menggambarkan objek liputan yang sama.
Foto jamak dapat dibuat dengan 3 cara:
a. Multikamera yaitu dengan menggunakan beberapa kamera yang masing-masing diarahkan ke satu objek
b.  Kamera multilensa yaitu satu kamera dengan beberapa lensa
c.  Kamera tunggal berlensa tunggal dengan pengurai warna.
Foto jamak dibedakan lebih jauh lagi:
1.             Foto multispektral yaitu beberapa foto untuk daerah yang sama dengan beberapa kamera atau satu kamera dengan beberapa lensa masing-masing, lensa menggunakan band/saluran yang berbeda yaitu biru, hijau, merah, serta inframerah pantulan.
2.             Foto dengan kamera ganda,yaitu pemotratan disuatu daerah dengan menggunakan beberapa kamera dengan jenis film yang berbeda.
3.             Foto dengan sudut kamera ganda, yaitu dengan menggunakan satu kamera vertikal di bagian tengah dan di bagian tepi untuk beberapa foto condong.

Warna yang digunakan
1.  Warna asli (true color) yaitu foto pankromatik berwarna
2.  Warna semu (false color) atau foto inframerah berwarna
Wahana yang digunakan
1. Pesawat terbang/balon udara – foto udara
2. Satelit – foto satelit/foto orbital                                              
 CITRA NONFOTO
     Citra Nonfoto Adalah gambaran yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera. Dan dalam artian lain Citra Nonfoto Adalah gambar atau citra tentang suatu objek yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera dengan cara memindai (scanning).

Berdasarkan spectrum elektromagnetik yang digunakan dibedakan menjadi 3:
1. Citra inframerah termal yaitu yang dibuat dengan menggunakan spectrum  inframerah termal.
2. Citra radar yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan spectrum           gelombang mikro dan sumber tenaga.
3. Citra gelombang mikro yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan spectrum gelombang mikro.

Berdasarkan Sensor yang digunakan dibedakan menjadi :
            1. Citra tunggal yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan                                sensor tunggal dengan saluran lebar
            2. Citra multispektral yaitu citra yang dibuat dengan                                               menggunakan sensor jamak dengan saluran sempit,yang                            terdiri dari:
- Citra RBV(Return Beam Vidicon),sensornya berupa kamera yang hasilnya tidak dalam bentuk foto karena detektornya bukan film dan prosesnya non fotografik.
- Citra MSS (Multi Spektral Scanner), sensornya dapat menggunakan spectrum tampak maupun spectrum inframerah termal,citra ini dapat dibuat dari pesawat udara.
Berdasarkan Wahana yang digunakan dibedakan menjadi :
1. Citra dirgantara (airbone image) yaitu citra yang dibuat dari dirgantara dengan pesawat terbang.
     Contoh : Citra inframerah termal,citra radar dan citra MSS.
2. Citra satelit yaitu citra yang dibuat dari antariksa atau angkasa luar dengan satelit.
     Citra satelit dapat dibedakan menjadi 4 :
1.    Citra satelit untuk penginderaan planet misalnya Viking(AS), serta citra satelit Runa dan Venera (Rusia).
2. Citra satelit untuk penginderaan cuaca.misalnya citra NOAA dan citra satelit Meteor (Rusia).
  3.  Citra satelit untuk penginderaan sumber daya bumi, misalnya  citra Landsat (AS), Citra Soyuz (Rusia) dan citra SPOT (Perancis).
4. Citra satelit untuk menginderakan laut, misalnya citra Seasat (AS) dan citra MOS (Jepang).

 Penginderaan Jarak Jauh
      Sabins (1996) dalam Kerle, et al. (2004) menjelaskan bahwa penginderaan jauh adalah ilmu untuk memperoleh, mengolah dan menginterpretasi citra yang telah direkam yang berasal dari interaksi antara gelombang elektromagnetik dengan sutau objek. Sedangkan menurut Lillesand and Kiefer (1993). Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau fenomena yang dikaji.
    Data penginderaan jauh diperoleh dari suatu satelit, pesawat udara balon udara atau wahana lainnya. Data-data tersebut berasal rekaman sensor yang memiliki karakteristik berbeda-beda pada masing-masing tingkat ketinggian yang akhirnya menentukan perbedaan dari data penginderaan jauh yang di hasilkan (Richards and Jia, 2006).
Menurut beberapa pakar penginderaan jauh dapat diartikan sebagai:
- Penginderaan jauh adalah ilmu atau seni untuk memperoleh informasi tentang objek, daerah atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat, tanpa kontak langsung dengan objek, daerah atau gejala yang akan dikaji (Lillesand dan Kiefer, dalam Sutanto, 1986).
- Penginderaan jauh merupakan teknik yang dikembangkan untuk memperoleh ldan menganalisis informaasi tentang bumi. Informasi itu berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan dari permukaan bumi (lindgren, 1985).
- Penginderaan jauh merupakan upaya untuk memperoleh, menemutunjukkan (mengidentifikasi) dan menganalisis objek dengan sensor pada posisi pengamatan daerah kajian (Avery, 1986).

Untuk melakukan penginderaan jarak jauh diperlukan alat sensor, alat pengolah datadan alat-alat lainnya sebagai pendukung. Oleh karena sensor tidak ditempatkan pada objek, maka perlu adanya wahana atau alat sebagai tempat untuk meletakkan sensor. Wahana tersebut dapatberupa balon udara, pesawat terbang, satelit atau wahana lainnya Antara sensor, wahana,dan citra diharapkan selalu berkaitan, karena hal itu akan menentukan skala citra yang dihasilkan.
          Sistem Penginderaan Jauh (Sutanto, 1986). Keterangan: Sensor menangkap objek dari bumi, dimana suatu objek itu untuk bisa sampai ke sensor  membutuhkan energi dari sinar matahari sebagai sumber energi. Agar energi tesebut dapat sampai ke objek, harus melewati pembatas atau hambatan yang dinamakan atmosfer. Namun tidak sepenuhnya sinar yang datang dari matahari mengenai objek karena adanya hambatan atmosfer tersebut. Setelah itu, energi yang sampai ke objek diterima dan dipantulkan dan dipancarkan ke sensor sebagai inti dari sistem tersebut. Kemudian dari sensor mengeluarkan data digital dan data visual yang kemudian sampai ke pengguna yang ada dipermukaan bumi.

Citra
Citra indraja adalah gambaran suatu gejala atau objek sebagai hasil rekaman dari sebuah sensor,baik dengan cara optic,elektrooptik maupun elektronik.
Citra dibedakan menjadi 2:
Citra foto (photographic image)
Citra nonfoto (nonphotographic image)

CITRA FOTO
          Citra foto adalah gambaran suatu gejala dipermukaan bumi sebagai hasil pemotretan dengan menggunakan kamera.
Berdasarkan spektruk elektromagnetik yang digunakan, citra foto dibedakan menjadi 5 jenis:
1. Citra foto ultraviolet, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum ultraviolet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikrometer.
2. Citra foto ortokromatik,yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum tampak dari warna biru hingga sebagian warna hijau(0,4-0,56 mikrometer).
3. Citra foto pankromatik yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan seluruh spectrum tampak matamulai warna merah hingga ungu.
4. Citra inframerah asli yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum inframerah dekat hingga panjang gelombang 0,9 -1,2 mikrometer yang dibuat secara khusus.
5. Citra foto inframerah modifikasi, yaitu citra foto yang dibuat dengan menggunakan spectrum inframerah dan sebagian spectrum tampak dari warna merah dan sebagian warna hijau.

 Berdasarkan arah sumbu kamera dibedakan menjadi :
1. Citra foto vertica /foto tegak /orto photograph yaitu citra foto yang dibuat dengan posisi sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi.
2. Citra foto condong /foto miring /oblique photograph yaitu dibuat dengan kamera yang menyudut terhadap garis lurus di permukaan bumi.
Citra foto condong dibedakan menjadi 2:
a. Citra foto agak condong /low oblique photograph yaitu apabila cakrawala tidak tergambar pada citra foto.
b. Citra foto sangat condong /high oblique photograph yaitu apabila cakrawala tergambar pada citra foto.

 Berdasarkan Sudut Liputan Kamera dibedakan menjadi :
1.  Sudut kecil :liputan < 60º
2. Sudut normal : liputan antara 60º -75º
3. Sudut lebar : liputan antara 75º -100º
4. Sangat lebar: liputan > 100º
Semakin lebar sudut kamera,semakin luas permukaan bumi yang diliput.

 Berdasarkan jenis kamera
1)  Citra foto tunggal yaitu citra foto yang dibuat dengan kamera tunggal.
2) Citra foto jamak yaitu citra foto yang dibuat pada saat yang sama dan menggambarkan objek liputan yang sama.
Foto jamak dapat dibuat dengan 3 cara:
a. Multikamera yaitu dengan menggunakan beberapa kamera yang masing-masing diarahkan ke satu objek
b.  Kamera multilensa yaitu satu kamera dengan beberapa lensa
c.  Kamera tunggal berlensa tunggal dengan pengurai warna.
Foto jamak dibedakan lebih jauh lagi:
1.             Foto multispektral yaitu beberapa foto untuk daerah yang sama dengan beberapa kamera atau satu kamera dengan beberapa lensa masing-masing, lensa menggunakan band/saluran yang berbeda yaitu biru, hijau, merah, serta inframerah pantulan.
2.             Foto dengan kamera ganda,yaitu pemotratan disuatu daerah dengan menggunakan beberapa kamera dengan jenis film yang berbeda.
3.             Foto dengan sudut kamera ganda, yaitu dengan menggunakan satu kamera vertikal di bagian tengah dan di bagian tepi untuk beberapa foto condong.

Warna yang digunakan
1.  Warna asli (true color) yaitu foto pankromatik berwarna
2.  Warna semu (false color) atau foto inframerah berwarna
Wahana yang digunakan
1. Pesawat terbang/balon udara – foto udara
2. Satelit – foto satelit/foto orbital                                              
 CITRA NONFOTO
     Citra Nonfoto Adalah gambaran yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera. Dan dalam artian lain Citra Nonfoto Adalah gambar atau citra tentang suatu objek yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera dengan cara memindai (scanning).

Berdasarkan spectrum elektromagnetik yang digunakan dibedakan menjadi 3:
1. Citra inframerah termal yaitu yang dibuat dengan menggunakan spectrum  inframerah termal.
2. Citra radar yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan spectrum           gelombang mikro dan sumber tenaga.
3. Citra gelombang mikro yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan spectrum gelombang mikro.

Berdasarkan Sensor yang digunakan dibedakan menjadi :
            1. Citra tunggal yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan                                sensor tunggal dengan saluran lebar
            2. Citra multispektral yaitu citra yang dibuat dengan                                               menggunakan sensor jamak dengan saluran sempit,yang                            terdiri dari:
- Citra RBV(Return Beam Vidicon),sensornya berupa kamera yang hasilnya tidak dalam bentuk foto karena detektornya bukan film dan prosesnya non fotografik.
- Citra MSS (Multi Spektral Scanner), sensornya dapat menggunakan spectrum tampak maupun spectrum inframerah termal,citra ini dapat dibuat dari pesawat udara.
Berdasarkan Wahana yang digunakan dibedakan menjadi :
1. Citra dirgantara (airbone image) yaitu citra yang dibuat dari dirgantara dengan pesawat terbang.
     Contoh : Citra inframerah termal,citra radar dan citra MSS.
2. Citra satelit yaitu citra yang dibuat dari antariksa atau angkasa luar dengan satelit.
     Citra satelit dapat dibedakan menjadi 4 :
1.    Citra satelit untuk penginderaan planet misalnya Viking(AS), serta citra satelit Runa dan Venera (Rusia).
2. Citra satelit untuk penginderaan cuaca.misalnya citra NOAA dan citra satelit Meteor (Rusia).
  3.  Citra satelit untuk penginderaan sumber daya bumi, misalnya  citra Landsat (AS), Citra Soyuz (Rusia) dan citra SPOT (Perancis).
4. Citra satelit untuk menginderakan laut, misalnya citra Seasat (AS) dan citra MOS (Jepang).