Jumat, 16 November 2012

Suhu Permukaan Laut Dengan Citra NOAA-AVHRR


Resume Studi Suhu Permukaan Laut Dengan Citra NOAA-AVHRR Di Perairan Selatan Laut Jawa
Indonesia memiliki daerah perairan yang sangat luas. Memiliki potensi sumber daya hayati laut yang cukup tinggi. Kondisi oseanografi yang sangat dinamis ini sangat berpengaruh secara langsung terhadap kehidupan biota laut. Suhu merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh sangat dominan terhadap sumber daya laut. Oleh karena itu dilakukan studi untuk mengetahui persebaran suhu di lautan Selatan Jawa Timur.
Berdasarkan distribusi suhu permukaan laut (SPL) suatu wilayah yang luas akan dapat diamati fenomena up welling / front di suatu wilayah. Studi sebaran suhu permukaan secara sinoptik dapaat dilakukan dengan menggunakan citra satelit yang diproses dari inframerah, salah satu fenomena yang diamati adalah terbentuknya thermal front (zone pertemuan massa air dengan suhu yang berbeda). Hal ini disebabkan karena pergerakan massa air dari lapisan bawah ke permukaan (up welling).
Pemanfaatan data pengindraan jauh satelit khususnya data NOAA-AVHRR merupakan alternatif paling tepat karena mempunyai frekuensi pengamatan tinggi (dua kali per hari) dan juga biaya operasional yang murah. Penelitian dilakukan bulan Juni-Juli 2003 untuk mengamati persebaran suhu pada bulan Juni-Oktober 2002. Di daerah Selatan Jawa Timur dan data diolah di Stasiun Bumi Satelit Lingkungan dan Cuaca (SBLSC), Pusat Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Pengindraan Jauh (PUSBANGJA), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Jakarta.Penelitian menggunakan bahan dan alat yang menghasilkan data primer dari citra satelit NOAA-AVHRR bebas awan Juni-Oktober tahun 2002.
Untuk perhitungan kdecerahan tahap pertama menggunakan persamaan kalibrasi
Ln = SnCn + ln
Dimana :
Ln = nilai radiasi kanal ke n
Sn = koefisien slope data kanal ke n
Ln = koefisien intercept data kanal ke n
Cn = data radiometer count setiap piksel individu pada kanal ke n
Selanjutnya melakukan konversi menjadi menjadi suhu air (water temperature), dihitung untuk masing-masing kanal dengan memasukkan nilai koreksi emisivitas air yang nilainya adalah 0.98. persamaan yang digunakan untuk menghitung suhu (TWn) adalah :
TWn =    
Dimana:
TWn = suhu air (ºK)
C2 = konstanta radiasi surya (1,438833 cm ºK)
Vn = central wave number kanal inframerah jauh AVHRR
ln = nilai radiasi
ε = emisivitas air (0.98)
Perhitungan suhu permukaan laut diperoleh dengan memasukkan suhu air ke dalam kanal menggunakan persamaan alogaritma.
SPL = Tw4 + 2,702 (Tw4 – Tw5) – 237,582
Dimana:
Tw4 = suhu air kanal 4 (ºK)
Tw5 = suhu air kanal 5 (ºK)
SPL = suhu permukaan laut (ºC)
Dari analisa menggunakan citra NOAA-AVHRR didapat sebaran suhu pada bulan Juni 27-28 ºC.  Juli 24-25 ºC, Agustus 22-23 ºC, September 22-23 ºC, Oktober 22-25 ºC. Proses up welling di selatan Jawa Timur terjadi pada bulan Agustus- September 2002 pada suhu 21 ºC.

Temperatur Laut


Temperatur
             Temperatur adalah ukuran panas-dinginnya dari suatu benda. Panas-dinginnya suatu benda berkaitan dengan energi termis yang terkandung dalam benda tersebut. Makin besar energi termisnya, makin besar temperaturnya. Temperatur adalah salah satu sifat fisik yang paling penting dari air laut. Salinitas dan temperatur bersama-sama mengontrol densitas air laut.
Temperatur air laut mengontrol distribusi dari organisme laut dan ikan. Karena temperatur dapat mempengaruhi proses kimia (metabolisme), temperatur air laut memiliki efek yang besar pada proses kehidupan ikan. Perubahan temperatur airu laut dapat mengakibatkan perubahan aktivitas tubuh pada ikan.
Suhupermukaan lautmempengaruhi sifat udara permukaan di atas lautan. struktur suhu vertikalmempengaruhi propagasi suara di laut dan oleh karena itu penting untuk peranganti-kapal selam.
Suhu air laut merupakan indikasi perubahan lainnya dan kondisidi laut seperti intensitas upwelling, arus, dan batas massa air (Reddy, 2001).
Alat pengukur suhu air laut adalah Bathythermograph, atau BT merupakan perangkat berbentuk torpedo kecil yang memegang sensor suhu dan transduser untukmendeteksi perubahan suhuair dibandingkan kedalaman.
Diturunkan ke dalam air dari sebuah kapal berlangsung, BT catatan tekanan dan perubahan suhu seperti yang dijatuhkan melalui air. Karena tekanan adalah fungsi kedalaman, pengukuran suhu dapat dikorelasikan dengan kedalaman di mana mereka dicatat. Bathythermograph  dikembangkan oleh Athelstan Spilhaus pada tahun 1938.
Prinsip Kerja : Bathythermograph Submarine Amerika, dirancang untuk mengambil keuntungan dari lapisan termal. Bathythermograph mencatat jejak mendalam / suhu gabungan pada kartu dilapisi karbon. Sebagai perahu turun, stylus terhapus karbon dari atas ke bawah pada kartu dikalibrasi. Sebuah batang kontrol kedua pindah stylus lateral karena suhu naik dan turun. Jika melacak menunjukkan garis relatif lurus dari permukaan sampai kedalaman operasi, air dikatakan isotermal. Ini semacam air menyediakan kondisi yang ideal sonar, tapi tidak sangat baik jika Anda mencoba untuk menyembunyikan dari sonar. A (penurunan suhu dengan kedalaman) positif (kenaikan suhu dengan kedalaman) atau negatif gradien temperatur menyediakan kondisi yang lebih baik untuk menghindari sonar musuh. Kondisi terbaik ditemukan ketika suhu tiba-tiba naik atau turun beberapa derajat dalam beberapa meter kedalaman.Mendapatkan bawah seperti lapisan secara drastis dapat mengurangi kemungkinan kapal selam itu menjadi terdeteksi.

File:Bathythermograph.jpg                                



Gambar 1 : Bathythermograph
Selain Bathythermograph ada CTD (Conductivity Temperature Depth) adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur karakteristik air seperti suhu, salinitas, tekanan, kedalaman, dan densitas.. Secara umum, sistem CTD terdiri dari unit masukan data, sistem pengolahan, dan unit luaran.
Prinsip Kerja : Prinsipnya teknik pengukuran pada CTD ini adalah untuk mengarahkan sinyal dan mendapatkan sinyal dari sensor yang menditeksi suatu besaran, kemudian mendapatkan data dari metode multiplexer dan pengkodean (decode), kemudian memecah data dengan metode enkoder untuk di transfer ke serial data stream dengan dikirimkan ke kontrolunit via cabel.
CTD diturunkan ke kolom perairan dengan menggunakan winch disertai seperangkat kabel elektrik secara perlahan hingga ke lapisan dekat dasar kemudian ditarik kembali ke permukaan. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas). Pengukuran tekanan pada CTD menggunakan strain gauge pressure monitor atau quartz crystal.
     Tekanan akan dicatat dalam desibar kemudian tekanan dikonversi menjadi kedalaman dalam meter. Sensor temperatur yang terdapat pada CTD menggunakan thermistor, termometer platinum atau kombinasi keduanya. Sel induktif yang terdapat dalam CTD digunakan sebagai sensor salinitas. Pengukuran data tercatat dalam bentuk data digital. Data tersebut tersimpan dalam CTD dan ditransfer ke komputer setelah CTD diangkat dari perairan atau transfer data dapat dilakukan secara kontinu selama perangkat perantara (interface) dari CTD ke komputer tersambung.
                                                                                                            
http://www.somas.stonybrook.edu/~warren/linkes_06/linkes_06_images/ctd_rosette_launch.jpg
           





Gambar 2 :  CTD

2.1.1 Distribusi Temperatur Vertikal
                Para ahli membaginya menjadi :
a.    Well-mixed surface layer 
: lapisan yang berada pada kedalaman 10 – 500 m
b.    Thermocline, lapisan transisi 
: Lapisan yang berada pada kedalaman 500 – 1000 m. Pada lapisan ini suhu menurun secara drastis. Lapisan Thermocline (termoklin) adalah lapisan yang membagi 2 massa air di perairan, lapisan ini merupakan lapisan pembatas antara air yang berada di permukaan dan yang berada di bawahnya, pada umumnya lapisan ini memiliki flukstuasi suhu yang sangat tajam dibandingkan dengan lapisan air lainnya.
Secara umum, temperatur di laut akan berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Pada kedalaman 200-300 meter dan 1000 meter, temperatur akan turun dengan cepat. Daerah ini dikenal sebagai termoklin permanen. Pada lapisan 1000 meter kebawah menuju dasar laut tidak  mengalami variasi musiman dan temperatur turun perlahan antara 0oC dan 3oC. Di atas termoklin pemanen, distribusi temperatur terhadap kedalaman menunjukkan variasi musiman terutama di lintang tengah. Pada musim dingin, ketika temperatur rendah  lapisan permukaan tercampur akan melebar ke termoklin pemanen. Pada musim panas, temperatur permukaan naik, termoklin musiman sering terbentuk di atas termoklin pemanen.
c.    Lapisan yang relatif homogen dan dingin (> 1000 m)
: Lapisan yang berada pada kedalaman lebih dari 1000 m
Gambar 3 : Profil Temperatur terhadap kedalaman

2. 1. 2 Distribusi Temperatur Horizontal
Faktor – faktor yang mempengaruhi persebaran temperatur secara horisontal adalah :
a)    Radiasi matahari yang jatuh ke permukaan bumi tidak sama
b)   Temperature laut berubah-ubah terhadap ruang dan waktu
c)    Variasi temperatur terhadap lintang :
·                     Pada lintang rendah (10 N- 10 S) dan dekat kutup utara dan selatan perbedaan temperature diantara bulan-bulan terhangat dan terdingin sepanjang tahun adalah kecil ( (3* c)
·                     Di lintang menengah ( sekitar 30* N dan S ) variasi terbesarnya sekitar 6*C
Temperatur suatu perairan dipengaruhi oleh radiasi matahari, posisi matahari, letak geografis, musim, kondisi awan serta proses interaksi antara air dan udara. Rata-rata radiasi matahari yang mencapai bumi dan menembus atmosfir hanya sekitar 70%. Distribusi temperatur di permukaan bumi bervariasi terhadap lintang dan musim karena sumbu bumi mengikuti orbitnya mengitari matahari. Temperatur permukaan laut tergantung pada insolasi dan penentuan jumlah panas yang kembali diradiasikan ke atmosfer. Temperatur rata-rata laut adalah 3,8°C, namun pada daerah ekuator temperatur rata-rata lebih rendah dari 4,9°C. Pada lapisan perairan dimana terjadi perubahan suhu secara drastis pada kedalaman perairan, dengan temperatur 8-15OC disebut sebagai lapisan termoklin. Pada daerah tropis, lapisan termoklin terjadi pada kedalaman 150-400 meter, sedangkan pada daerah subtropis, lapisan ini terjadi pada kedalaman 400 - 1000 meter. Panas juga ditransfer di sepanjang permukaan laut melaui konduksi dan konveksi serta pengaruh penguapan. Jika permukaan laut lebih panas dari udara di atasnya maka panas dapat ditransfer dari laut ke udara. Panas yang hilang dari laut ke udara di atasnya terjadi melalui proses konduksi. Namun demikian, kehilangan panas tersebut tidak penting untuk total panas lautan dan

Produktivitas Primer Rumput Laut


PRODUKTIVITAS PRIMER
Rumput laut hidup di wilayah pesisir dan laut berdampingan dengan terumbu karang.Biasanya mampu melekat dan hidup di substrat pasir dan karang mati.Produktivitas rumput laut yang berlebih dapat merusak ekosistem terumbu karang.Rumput laut memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia.Saat ini rumput laut menjadi komoditi ekspor utama di Indonesia.Dan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat di pesisir pantai$.Disamping itu rumput laut yang hidup di karang-karang terjal juga mampu melindungi pantai dari abrasi akibat gelombang laut.
Namun sayangnya saat ini budidaya rumput laut kian merajalela. Budidaya yang menggunakan cara sembarangan, yakni distek membuat ekosistem terumbu karang menjadi rusak. Ini menandakan keserakahan manusia yang tidak memperhatikan keberadaan lingkungan.Rumput laut memerlukan tempat menempel untuk kelangsungan hidupnya walaupun sebenarnya rumput laut tidak memiliki akar namun memiliki bagian yang menyerupai akar dan mempunyai fungsi untuk melekat, biasanya rumput laut menempel pada karang mati atau cangkang moluska, dapat juga menempel pada pasir atau lumpur.
Dalam budidaya rumput laut produktivitas tergantung pada tiga hal yaitu sifat-sifatinheren dari strain yang dibudidayakan, metoda yang digunakan dan kondisilingkungan perairan. Produksi per hektar per tahun bervariasi, dan dicatatproduktivitas yang tinggi hingga 74 ton untuk jenis spinosum dan 104 ton untukE. cottonii. Namun produktivitas biasanya berada pada kisaran antara 15 –30ton/ha/thn (Doty, 1987). Mubarak dkk, (1990) mengemukakan bahwaproduktivitas budidaya E. spinosum di Indonesia antara 30 - 37,5 ton/ha/thn.Kondisi perairan dan bibit serta teknik budidaya juga menentukan produktivitas.

FOTOSINTESIS
Rumput laut juga memerlukan sinar matahari untuk melakukan proses fotosintesis. Tidak seperti tumbuhan pada umumnya mendapatkan unsur hara dari tanah, rumput laut mendapat zat hara dari air disekelilingnya.Umumnya fotosintesis bertambah sejalan dengan peningkatan intensitas cahaya sampai pada suatu nilai optimum tertentu ( cahaya saturasi ). Peningkatan laju fotosintesis oleh rumput laut bergantung pada laju penangkapan kuantum cahaya .
Intensitas cahaya mempengaruhi nilai produktivitas primer.Hasil penelitian Sunarto (2002) membuktikan adanya hubungan antara intensitas cahaya dan produktivitas primer.Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas cahaya maka semakin tinggi produktivitas sampai batas tertentu kemudian turun kembali seiring dengan kenaikan intensitas cahaya . Ada batasan tertentu bahwa peningkatan intensitas cahaya tidak selamanya meningkatkan produktivitas .
Dari hasil fotosintesa rumput laut menghasilkan beberapa zat yang penting dan mempunyai nilai ekonomis.Rumput laut merah (Rhodophyceae) menghasilkan floridin starch, mannoglycerate dan floridosida.Lebih spesifik lagi dikenal dengan polisakarida berupa agar-agar dan karaginan.Rumput laut cokelat (Phaeophyceae) menghasilkan alginat.Rumput laut hijau (Chlorophyceae) menghasilkan kanji dan lemak.

 Manfaat
A. Rumput Laut sebagai Bahan Pembuat Makanan
Manfaat rumput laut berdasarkan penelitian tercatat 22 jenis telahdimanfaatkan sebagai makanan. Diwilayah perairan Sulawesi Selatan, SulawesiTenggara, Pulau Seram, Bali, Lombok, Kepulauan Riau dan Pulau Seribu diketahui18 jenis dimanfaatkan sebagai makanan dan 56 jenis sebagai makanan dan obattradisional oleh masyarakat pesisir.Dari hasil studi tercatat sebanyak 61 jenis dari 27 rumput laut di KepulauanRiau, Pantai Lampung, Pulau Jawa, Madura, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan,Sulawesi Tenggara dan beberapa di Kepulauan Maluku sudah terbiasa dijadikanmakanan. Jumlah tersebut didominasi oleh 38 jenis dari 17 ganggang merah, 15jenis dari 5 ganggang hijau dan 8 jenis dari 5 ganggang cokelat. Dari 21 jenis telahdimanfaatkan sebagai obat.Makanan yang dapat dibuat dari rumput laut diantaranya yaitu:

1. Nori
Nori dibuat dari rumput laut yang dihaluskan.bubur rumput laut ini kemudiandihamparkan dengan ketebalan yang sangat tipis. Proses selanjutnyadikeringkan sehingga bentuknya lembaran menyerupai kertas. Nori banyakdigunakan pada masakan Jepang, mulai dari pembungkus sushi, udang gulungatau rollade goreng.Pilih nori yang lentur, kering dan warnanya hitammengkilat.

2. Kombu dan Wakame
Sejenis ganggang laut yang dikeringkan.Kombu adalah bahan dasar membuatkaldu pada masakan Jepang.Setelah direbus kuahnya untuk kaldu dankombunya digunakan untuk isi soup, salad atau tumisan. Sedangkan wakame,bentuknya hampir menyerupai kombu, biasanya digunakan untuk campuransalad, isi soup atau campuran mie. jangan merebus wakame lebih dari satumenit untuk mendapatkan citarasa yang maksimal.

3. Manisan Rumput Laut
Diperoleh dari rumput laut segar, kemudian dicuci, direbus dan diolah denganlarutan gula sebagai pengawetnya. Citarasanya menyegarkan dan teksturnyakenyal juga renyah, sangat cocok untuk campuran es, pudding dan anekadessert.

4. Agar-agar
Masyarakat pada umumnya mengenal agar-agar dalam bentuk tepung yangbiasa digunakan untuk pembuatan puding. Akan tetapi orang tidak tahu secarapasti apa agar-agar itu. Agar-agar merupakan asam sulfanik yang meruapakanester dari galakto linier dan diperoleh dengan mengekstraksi ganggang jenisAgarophytae. Agar-agar ini sifatnya larut dalam air panas dan tidak larutdalam air dingin.
Sekarang ini penggunaan agar-agar semakin berkembang,yang dulunya hanya untuk makanan saja sekarang ini telah digunakan dalamindustri tekstil, kosmetik, dan lain-lain.Fungsi utamanya adalah sebagaibahan pemantap, dan pembuat emulsi, bahan pengental, bahan pengisi, danbahan pembuat gel.
Dalam industri, agar-agar banyak digunakan dalamindustri makanan seperti untuk pembuatan roti, sup, saus, es krim, jelly,permen, serbat, keju, puding, selai, bir, anggur, kopi, dan cokelat.Dalamindustri farmasi bermanfaat sebagai obat pencahar atau peluntur, pembungkuskapsul, dan bahan campuran pencetak contoh gigi.Dalam industri tekstildapat digunakan untuk melindungi kemilau sutera.Dalam industri kosmetik,agar-agar bermanfaat dalam pembuatan salep, krem, lotion, lipstik, dan sabun.Selain itu masih banyak manfaat lain dari agar-agar, seperti untuk pembuatanpelat film, pasta gigi, semir sepatu, kertas, dan pengalengan ikan dan daging.

5. Karaginan
Karaginan merupakan senyawa polisakarida yang tersusun dari unit Dgalaktosadan L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan1-4 glikosilik. Ciri khas dari karaginan adalah setiap unit galaktosanyamengikat gugusan sulfat, jumlah sulfatnya lebih kurang 35,1%. Kegunaankaraginan hampir sama dengan agar-agar, antara lain sebagai pengaturkeseimbangan, pengental, pembentuk gel, dan pengemulsi. Karaginan banyakdigunakan dalam industri makanan untuk pembuatan kue, roti, makroni, jam,jelly, sari buah, bir, es krim, dan gel pelapis produk daging.
6. Algin (Alginat)
Algin ini didapatkan dari rumput laut jenis algae coklat.Algin ini merupakanpolimer dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier panjang.Bentuk algin di pasaran banyak dijumpai dalam bentuk tepung natrium,kalium atau amonium alginate yang larut dalam air.Kegunaan algin dalamindustri ialah sebagai bahan pengental, pengatur keseimbangan, pengemulsi,dan pembentuk lapisan tipis yang tahan terhadap minyak. Algin dalamindustri banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan es krim,serbat, susu es, roti, kue, permen, mentega, saus, pengalengan daging, selai,sirup, dan puding.

B. Rumput Laut sebagai Bahan Baku Industri
Rumput laut banyak digunakan sebagai bahan baku industri. Contohnya yaitualga cokelat, yang digunakan untuk bahan baku es krim, pengolahan tekstil, pabrikfarmasi, semir sepatu, dan pabrik cat. Alga merah untuk bahan bakuindustry makanan, farmasi, penyamakan kulit, dan pembuatan bir. Dalam industri farmasi,alga coklat banyak dimanfaatkan untuk tablet, salep, kapsul, plester, dan filter.Industri kosmetik untuk cream, lotion, sampo, cat rambut, dan dalam industri lainseperti tekstil, kertas, fotografi, insektisida, pestisida, dan bahan pengawet kayu.

C. Rumput Laut sebagai Obat
Rumput laut dikenal juga sebagai obat tradisional untuk batuk, asma,bronkhitis, TBC, cacingan, sakit perut, demam, rematik, tukak lambung, radangusus besar, susah buang air besar dan gangguan pencernaan lainnya bahkandipercaya dapat meningkatkan daya seksual. Kandungan yodiumnya diperlukantubuh untuk mencegah penyakit gondok.
Di Cina, rumput laut juga biasa digunakan untuk pengobatan kanker.Tingginya tingkat konsumsi rumput laut mungkin berhubungan dengan rendahnyainsiden kanker payudara pada wanita di negara tersebut. Mungkin hal itudisebabkan oleh kandungan klorofil rumput laut yang bersifat antikarsinogenik.
Selain itu, vitamin A (beta carotene) dan vitamin C nya bekerja dalam memeliharakolagen, sedangkan kandungan protein dari rumput laut penting untuk membentukjaringan baru pada kulit. Sehingga Mencegah penuaan dini. Semua rumut laut kayaakan kandungan serat yang dapat mencegah kanker usus besar. Serat dapatmelancarkan pencernaan dengan membentuk zat seperti gelatin dalam usus halusdan meningkatkan kadar air dalam fases. Konsumsi serat dapat membantumetabolisme lemak sehingga menurunkan kadar kolestrol darah dan gula darah.Rumput laut juga membantu pengobatan tukak lambung, radang usus besar, susahbuang air besar, dan gangguan pencernaan lainnya.
Klorofil pada gangang laut hijau dapat berfungsi sebagai antioksidan.Zat inimembantu membersihkan tubuh dari reaksi radikal bebas yang sangat berbahayabagi tubuh.Selain itu, Para Ilmuwan Jepang mengungkap, ekstrak rumput lautdapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.Bagi pengidap stroke,mengkonsumsi rumput laut juga sangat dianjurkan karena dapat menyerapkelebihan garam pada tubuh.
Rumput laut diketahui kaya akan nutrisi esensial, seperti enzim, asam nukleat,asam amino, mineral, trace elements, dan vitamin A,B,C,D,E dan K. Karenakandungan gizinya yang tinggi, rumput laut mampu meningkatkan sistem kerjahormonal, limfatik, dan juga saraf. Selain itu, rumput laut juga bisa meningkatkanfungsi pertahanan tubuh, memperbaiki sistem kerja jantung dan peredaran darah,serta sistem pencernaan. Rumput laut mengandung kalsium sepuluh kali lebih tinggidibandingkan dengan susu, sehingga rumput laut sangat tepat dikonsumsi untukmengurangi dan mencegah gejala osteoporosis.

Ekologi Rumput Laut


EKOLOGI
Rumput laut hidup dengan cara menyerap zat makanan dari perairan dan melakukan fotosintesis. Jadi pertumbuhannya membutuhkan faktor-faktor fisika dan kimia perairan seperti gerakan air, suhu, kadar garam, nitrat, dan fosfat serta pencahayaan matahari (Atmadja, et al., 1996)
            Menurut Nybakken (1992), rumput laut tumbuh melekat pada substrat yang keras, yang senanatiasa mendapat cahaya matahari. Pada perairan jernih rumput laut dapat hidup kedalaman 20-30 meter.Rumput laut ini memperoleh makanan berupa nutrient langsung dari air laut.Akibat peristiwa upwelling dan turburensi, nutrient tersebut menjadi tersedia di kolam air.Sekitar 10% dari produktivitas bersih rumput laut memasuki jaringan-jaringan makanan dalam bentuk detritus atau bahan organik terlarut.
            Penyebaran rumput laut pertama kali ditemukan hidup secara alami, dan keberadaannya dapat dijumpai di paparan terumbu karang dan goba dengan kedalamaan 1 -100 meter.
Parameter ekologis yang perlu diperhatikan antara lain: arus, kondisi dasar perairan, kedalaman, kadar garam, kecerahan, ketersediaan bibit dan organisme pengganggu.
a)      Arus; Gerakan airakan membawa unsur hara, menghilangkan kotoran yang menempel pada thallus, membantu pengudaraan, dan mencegah adanya fluktuasi suhu air yang besar. Indikator suatu lokasi yang memiliki arus yang baik adalah adanya pertumbuhan karang lunak dan padang lamun yang bersih dari kotoran dan cenderung miring ke satu arah. Arus merupakan gerakan mengalir suatu masa air yang dapat disebabkan oleh tiupan angin, perbedaan densitas air laut dan pasang surut yang bergelombang panjang dari laut terbuka. Kecepatanarus yang baik adalah 20-40 cm/detik dengan suhu berkisar 20-28oC dan pH berkisar 7,3-8,2
b)      Dasar Perairan; Dasar perairan yang sesuai adalah berupa pecahan-pecahan karang dan pasir kasar.Kondisi perairan tersebut juga merupakan indikator kejernihan air yang relatif baik memiliki adanya gerakan air yang baik.Dasar perairan yang didominasi oleh lumpur dapat mengakibatkan kekeruhan yang tinggi. Dasar perairan yang hanya terdiri dari pasir menunjukkan pergerakan air yang sedikit, dan lumpur menunjukkan pergerakan air yang lebih rendah lagi. Perairan dengan dasar karang ataupun karang mati
c)      Kedalaman; Kedalaman perairan sangat tergantung dari metode budi daya yang akan dipilih. Metode lepas dasar dilakukan pada kedalaman perairan tidak kurang dari 30-60 cm pada waktu surut terendah, sedangkan metode rakit apung, rawai dan jalur pada perairan dengan kedalaman sekitar 2-15 m.
d)     Kadar Garam; K. alvarezii merupakan rumput laut yang relatif tidak tahan terhadap kisaran kadar garam yang luas. Kadar garam yang sesuai untuk pertumbuhannya adalah berkisar 28-35 ppt. Penurunan salinitas akibat masuknya air tawar akan menyebabkan pertumbuhan Eucheuma spp menjadi tidak normal. Untuk memperoleh perairan dengan kondisi salinitas tersebut harus dihindari lokasi yang berdekatan dengan muara sungai. Soegiarto et al. (1978) menyatakan kisaran salinitas yang baik untukE u che u ma sp adalah 32 - 35 ppt.
e)      Kecerahan; Lokasi budi daya rumput laut sebaiknya pada perairan yang jernih atau tingkat kecerahan yang tinggi sekitar 2-5 m. Air keruh mengandung lumpur dapat menghalangi cahaya matahari ke dalam air serta dapat menutupi permukaan thallus yang dapat menyebabkan thallus membusuk sehingga mudah patah.
f)       Ketersediaan Bibit; Bibit rumput laut yang berkualitas sebaiknya tersedia di sekitar lokasi yang dipilih, baik yang bersumber dari alam maupun dari budi daya. Apabila di lokasi tersebut tidak tersedia bibit maka sebaiknya didatangkan dari daerah terdekat dengan memperhatikan kaidah-kaidah penanganan bibit dan pengangkutan yang baik
g)      Organisme Pengganggu; Lokasi budidaya diusahakan pada perairan yang tidak banyak terdapat organisme pengganggu misalnya ikan beronang, bintang laut, bulu babi dan penyu serta tanaman penempel

Areal yang baik adalah areal dengan dasar pasir kasar bercampur denga potongan karang.kedalaman yang lebi ideal adalah 60 cm - 80 cm, selama pasang surut yang terendah. fakor lain yang dalam ekologi rumput laut adalah transparansi Ph, sumber air tawar dan temperatur.Secara umum dapat disimpulkan bahwa ekologi yang tepat untuk pertumbuhan rumput laut adalah sebagai berikut :
1.        Adanya bibit
2.        Habitat terlindung dari arus dan ombak yang kuat
3.        Kedalaman pada pasang surut terendah antara 0,30 - 1 meter.
4.        Keadaan air cukup jernih
5.        Salinitas sekitar 27 - 30 per mil
6.        Jauh dari sumber air awar
7.        Suhu perairan antara 25 – 27o C
8.        Terdapat pegerakan air yang baik, sehingga mempermudah transportasi serta percampuran nutrisi

Ekologi merupakan salah satu faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan rumput laut, hal ini dimaklumi karena di dalam masalah ekologi termasuk pemilihan lokasi yang memenuhi syarat untuk pertumbuhan rumput laut secara ideal. Berikut adalah contoh  persyaratan untuk tumbuhnya beberapa species rumput laut :
A.    Eucheuman
Secara alami rumput laut jenis Eucheuma memerlukan beberapa syarat untuk tumbuh dengan baik, diantaranya adalah :
·           Dasar perairan berupa pasir kasar bercampur pecahan-pecahan koral.
·           Keadaan air cukup jernih, kecerahan tinggi.
·           Salinitas antara 27 - 34 per mil
·           Suhu air sekitar 25 - 27o C
·           Terdapat pergerakan air yang cukup baik.
·           Kedalaman pada pasang surut terendah antara 0,30 - 1 meter.
·           Tempat terlindung dari arus dan ombak yang kuat
·           Jauh dari sumber air tawar
·           Perairaan bebas dari populasi baik limbah domestik maupun limbah industri.

B.   Gracilaria sp.
Secara umum syarat-syarat untuk tumbuhnya rumput laut jenis Gracilaria adalah sebagai berikut :
·           Tersedianya sumber air tawar untuk menurunkan salinitas
·           Areal terlindung dari angin, arus dan ombak
·           Perbedaan pasang surut yang cukup sehingga memudahkan pergantian air
·           Dasar perairan terdiri dari pasir dan lumpur
·           Temperatur optimum berkisar antara 20 - 28o C
·           PH air antara 6 dan 9 dengan nilai optimum 8,2 - 8,7
·           Kedalaman sekitar 30 cm selama bulan-bulan berawan, dan 60 cm selama bulan-bulan tak berawan.


C.   Caulerpa sp.
Persyaratan ekologi untuk tumbuhnya rumput laut jenis Caulerpa sp. ini adalah :
·           Areal terlindung dari pengaruh angin dan ombak
·           Areal harus bebas dari populasi
·           Substrat terdiri dari clay-loan
·           Salinitas antara 30 32 per mil
·           Temperatur air berkisar antara 27 - 32 C
·           Kedalaman antara 60 - 100 cm (tergantung pada kekeruhan air)
·           Pond-level sedikit di bawah garis nol dari pasang
·           PH optimum 7 – 8

Pada perairan kepulauan di Indonesia rumput laut dijumpai di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang.Rumput laut di alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Di beberapa daerah pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera, rumput  laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak.
Di pantai selatan Jawa Barat dan Banten misalnya, rumput  laut dapat ditemui di sekitar pantai Santolo dan Sayang Heulang di Kabupaten Garut atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang. Sementara di daerah pantai barat Sumatera, rumput  laut dapat ditemui di pesisir barat Provinsi Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.
Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis rumput  laut juga banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia. Contoh jenis rumput  laut yang banyak dibudidayakan di antaranya adalah Euchema cottonii dan Gracilaria sp. Beberapa daerah dan pulau di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan usaha budidaya rumput  laut ini di antaranya berada di wilayah pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Rumput laut  atau Algae laut tumbuh hampir diseluruh bagian hidrosfer sampai batas kedalaman sinar matahari masih dapat mencapainya. Beberapa jenis rumput laut hidupnya kosmopolit, mendunia. Rumput laut hidup sebagai fitobenthos dengan menancapkan atau melekatkan dirinya pada substrat lumpur, pasir, karang, fragmen karang mati, batu , kayu dan benda keras lainnya. Ada pula yang menempel pada tumbuhan lain secara epifitik.