GLOBAL WARMING
Penyebab Terjadinya
Pemanasan global (Inggris: global
warming) adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan
daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ±
0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel
on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan
suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan
oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1]
melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya
30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari
negara-negara G8.
Setiap beberapa tahun sekali, ribuan
ahli dan peneliti-peneliti terbaik dunia yang tergabung dalam IPCC mengadakan
pertemuan untuk mendiskusikan penemuan-penemuan terbaru yang berhubungan dengan
pemanasan global, dan membuat kesimpulan dari laporan dan penemuan- penemuan
baru yang berhasil dikumpulkan, kemudian membuat persetujuan untuk solusi dari
masalah tersebut . Salah satu hal pertama yang mereka temukan adalah bahwa
beberapa jenis gas rumah kaca bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan
yang kita alami. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh peternakan,
pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern,
peternakan, serta pembangkit tenaga listrik.
Kelompok gas yang menjaga suhu
permukaan bumi agar tetap hangat dikenal dengan istilah “gas rumah kaca”.
Disebut gas rumah kaca karena sistem kerja gas-gas tersebut di atmosfer bumi
mirip dengan cara kerja rumah kaca yang berfungsi menahan panas matahari di
dalamnya agar suhu di dalam rumah kaca tetap hangat, dengan begitu tanaman di
dalamnya pun akan dapat tumbuh dengan baik karena memiliki panas matahari yang
cukupTanpa keberadaan gas rumah kaca, bumi akan menjadi terlalu dingin untuk
ditinggali karena tidak adanya lapisan yang mengisolasi panas matahari.
Kontributor terbesar pemanasan
global saat ini adalah Karbon Dioksida (CO2), metana (CH4) yang dihasilkan
agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak),
Nitrogen Oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan
pendingin ruangan (CFC). Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai
penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini karena pohon-pohon yang mati
akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer. Setiap gas
rumah kaca memiliki efek pemanasan global yang berbedabeda. Beberapa gas
menghasilkan efek pemanasan lebih parah dari CO2. Sebagai contoh sebuah molekul
metana menghasilkan efek pemanasan 23 kali dari molekul CO2. Molekul NO bahkan
menghasilkan efek pemanasan sampai 300 kali dari molekul CO2. Gas-gas lain
seperti chlorofluorocarbons (CFC) ada yang menghasilkan efek pemanasan hingga
ribuan kali dari CO2.
Indonesia termasuk negara
pengkonsumsi energi terbesar di Asia setelah Cina, Jepang, India dan Korea
Selatan. Konsumsi energi yang besar ini diperoleh karena banyaknya penduduk
yang menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energinya. Menurut Prof. Emil
Salim, USA mengemisikan 20 ton CO2/orang per tahun dengan jumlah penduduk 1,1
milyar penduduk, Cina mengemisikan 3 ton
CO2/orang per tahun dengan jumlah 1,3 milyar penduduk, sementara India mengemisikan
1,2 ton CO2/orang dengan jumlah 1 milyar penduduk.
Divisi
Lingkungan Bank Dunia baru-baru ini mengemukakan penelitian mengejutkan
bahwa produksi dan konsumsi daging menyebabkan 51% pemanasan global dalam
laporan penelitian mereka yang bertajuk Livestock and Climate Change (2009)10.
Berikut adalah tabel koreksi emisi produksi dan konsumsi daging setelah
menggabungkan berbagai aspek yang tidak diperhitungkan dalam laporan FAO
“Livestock Long Shadow” (2006) menurut Bank Dunia :
Penelitian Badan Asesmen Lingkungan
Belanda, yang berjudul “Manfaat Mengubah Pola Makan terhadap Iklim” (2009) juga
menganalisa seluruh rantai aktivitas pengembangbiakkan ternak dari ladang ke
piring makan. Studi itu menghitung biaya moneter untuk menghentikan perubahan
iklim, yang diartikan dengan menstabilkan CO2 yang ada di atmosfer pada tingkat
450 bagian per juta (ppm). Laporan tersebut menyimpulkan bahwa 20 miliar dolar
AS, atau 50 persen dari total perkiraan biaya 40 miliar dolar AS, dapat ditekan
pengeluarannya dengan peralihan global ke pola makan sedikit daging.
Pembangkit Energi
Sektor energi merupakan sumber penting gas rumah
kaca, khususnya karena energi dihasilkan dari bahan bakar fosil, seperti
minyak, gas, dan batu bara, di mana batu bara banyak digunakan untuk menghasilkan
listrik.9 Sumbangan sektor energi terhadap emisi gas rumah kaca
mencapai 25,9%.2
Industri
Sumbangan sektor industri terhadap emisi gas rumah
kaca mencapai 19,4%.2 Sebagian besar sumbangan sektor industri
ini berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik atau
dari produksi C02 secara langsung sebagai bagian dari
pemrosesannya, misalnya saja dalam produksi semen.
Pertanian
Sumbangan sektor pertanian terhadap
emisi gas rumah kaca sebesar 13,5%.2 Sumber emisi gas rumah
kaca pertama-tama berasal dari pengerjaan tanah dan pembukaan hutan.
Selanjutnya, berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk pembuatan pupuk
dan zat kimia lain.
Alih Fungsi Lahan dan Pembabatan Hutan
Sumber lain C02 berasal dari alih
fungsi lahan di mana ia bertanggung jawab sebesar 17.4%.2Pohon dan
tanaman menyerap karbon selagi mereka hidup. Ketika pohon atau tanaman membusuk
atau dibakar, sebagian besar karbon yang mereka simpan dilepaskan kembali ke
atmosfer.9 Bila hutan itu tidak segera direboisasi, tanah itu
kemudian akan menyerap jauh lebih sedikit CO2.
Transportasi
Sumbangan seluruh sektor transportasi terhadap emisi
gas rumah kaca mencapai 13,1%.3 Sektor transportasi dapat
dibagi menjadi transportasi darat, laut, udara, dan kereta api. Dari total
sumbangan 13,1% itu, sumbangan terbesar berasal dari transportasi darat
(79,5%), disusul kemudian oleh transportasi udara (13%), transportasi laut
(7%), dan terakhir kereta api (0,5%).9
Hunian dan Bangunan Komersial
Sektor
hunian dan bangunan bertanggung jawab sebesar 7,9%.2 Namun,
bila dipandang dari penggunaan energi, maka hunian dan bangunan komersial bisa
menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang besar.
Sampah
Limbah
sampah menyumbang 3,6% emisi gas rumah kaca.2 Sampah di sini
bisa berasal dari sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah (2%) atau
dari air limbah atau jenis limbah lainnya (1,6%). Gas rumah kaca yang berperan
terutama adalah metana, yang berasal dari proses pembusukan sampah tersebut.
Dampak
Pemanasan Global
Iklim
mulai tidak stabil
Para
ilmuwan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari
belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah
lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan
mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut.
Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan
mengalaminya lagi.. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Suhu pada
musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
Daerah
hangat akan menjadi lebih lembap karena lebih banyak air yang menguap dari
lautan. Para ilmuwan belum begitu yakin apakah kelembapan tersebut malah akan
meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan
karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan
meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Kelembapan yang tinggi akan
meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap
derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat
sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini)[22]. Badai akan menjadi
lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya
beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Berlawanan dengan
pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan
terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrem.
Peningkatan permukaan laut
Perubahan
tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil
secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan
menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan
laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar
Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di
seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan
para ilmuwan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 - 35 inchi)
pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan
sangat memengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan
menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan
banyak pulau-pulau. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat
air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana
yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara
miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai. Bahkan
sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat memengaruhi ekosistem pantai.
Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di
Amerika Serikat.
Suhu global cenderung meningkat
Bagian
Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya
curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis
semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah
pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat
menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai
reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman
pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih
hebat.
Gangguan
ekologis
Hewan
dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan
ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global,
hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan.
Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat
lamanya menjadi terlalu hangat. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau
selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan
mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju
kutub mungkin juga akan musnah.
Dampak
sosial dan politik
Perubahan
cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga
dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi.
Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat
mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian
akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan
penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti:
diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit,
dan lain-lain.
Pergeseran ekosistem dapat memberi
dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun
penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Selain itu bisa
diprediksi kan bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah akan terseleksi
ataupun punah dikarenakan perbuhan ekosistem yang ekstreem ini. hal ini juga
akan berdampak perubahan iklim (Climate change)yang bisa berdampak kepada
peningkatan kasus penyakit tertentu seperti ISPA (kemarau panjang / kebakaran
hutan, DBD Kaitan dengan musim hujan tidak menentu)
Gradasi Lingkungan yang disebabkan oleh
pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan
vector-borne disease.
Langkah
Penanggulangan
Tantangan
yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan
langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.
Kerusakan yang parah dapat di atasi
dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan
penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat
membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa
negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan
tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum
dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan
berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.
Ada dua pendekatan utama untuk
memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon
dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen
karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan
karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
Menghilangkan
karbon
Cara
yang paling mudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan
memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang
muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak,
memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh
dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan.
Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan
dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Gas
karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan
menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk
mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan . Injeksi juga bisa dilakukan
untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan
batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu
anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, dimana karbon dioksida yang terbawa
ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga
tidak dapat kembali ke permukaan.
Salah satu sumber penyumbang karbon
dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil
mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Walaupun
demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi
pelepasan karbon dioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial
karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, bahkan tidak melepas
karbon dioksida sama sekali.
Penanganan Secara Internasional
Kontroversi
penanganan pemanasan global merupakan persoalan yang telah menyita energi dan
waktu dari seluruh negara. Masih terjadinya bentangan ekonomi antara negara
maju dan berkembang mengakibatkan kesepakatan yang belum dapat terpenuhi.
Komitmen secara terikat dan pendanaan jangka panjang menjadi tuntutan
negara-negara berkembang menjelang Protokol Kyoto yang akan habis masa
berlakunya pada tahun 2013. Sementara itu, di lain pihak kekhawatiran terhadap
pertumbuhan ekonomi dan belum adanya sistem pengurangan emisi secara akurat di
negara berkembang menjadi alasan negara-negara maju enggan menyetujuinya.
Keberadaan media terhadap pemberitaan permasalahan ini menarik untuk diamati
mengingat media pun memiliki sudut pandang dan berbagai kepentingan di dalamnya.
Kompas memandang kepentingan sepihak dari negara-negara maju yang merendahkan
keberadaan negara berkembang demi kepentingan mereka sendiri. Hal itu tampak
melalui framing yang diterapkan menekankan pada aspek ekonomi yang seharusnya
mengutamakan sisi kemanusiaan sebagai acuan dalam melihat kondisi ini tanpa
membedakan bentangan ekonomi di dalamnya.
Protokol Kyoto
Di
Stockholm pada Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia (Human
Environmental) tahun 1972, masyarakat internasional bertemu pertama kalinya
untuk membahas situasi lingkungan hidup secara global. Pada peringatan kedua
puluh tahun pertemuan Stockholm tersebut, digelarlah konferensi bumi di Rio de
Jainero tahun 1992. Di konferensi ini ditandatanganilah Konvensi PBB untuk
Perubahan Iklim (UNFCCC). UNFCC memiliki tujuan utama berupa menstabilkan
konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer hingga berada di tingkat aman.
Ada
tiga mekanisme yang diatur di Protokol Kyoto ini yaitu berupa joint
implementation; Clean Development Mechanism; dan Emission Trading. Joint
Implementation (implementasi bersama) adalah kerja sama antar negara maju untuk
mengurangi emisi GRK mereka. Clean Development Mechanisme (Mekanisme
Penmbangunan Bersih) adalah win-win solution antara negara maju dan negara
berkembang, di mana negara maju berinvestasi di negara berkembang dalam proyek
yang dapat megurangi emisi GRK dengan imbalan sertifikat pengurangan emisi
(CER) bagi negara maju tersebut. Emission Trading (Perdagangan emisi) adalah
perdangan emisi antar negara maju.
Langkah Awal Penanganan Pemanasan Global
Secara Individu
- Kurangi
Konsumsi Daging Jadilah Vegetarian produksi
daging sarat CO2 dan metana dan membutuhkan banyak air.
Hewan ternak seperti sapi atau kambing merupakan penghasil terbesar metana
saat mereka mencerna makanan mereka.1 Food and Agriculture
Organization (FAO) PBB menyebutkan produksi daging menyumbang 18%
pemanasan global, lebih besar daripada sumbangan seluruh transportasi di
dunia (13,5%). Lebih lanjut, dalam laporan FAO, “Livestock’s Long Shadow”,
2006 dipaparkan bahwa peternakan menyumbang 65% gas nitro oksida dunia
(310 kali lebih kuat dari CO2) dan 37% gas metana dunia
(72 kali lebih kuat dari CO2).2Selain itu, United
Nations Environment
- Tanam
Pohon Satu pohon berukuran agak
besar dapat menyerap 6 kg CO2 per tahunnya.1 Dalam
seluruh masa hidupnya, satu batang pohon dapat menyerap 1 ton CO2.7United
Nations Environment Programme (UNEP) melaporkan bahwa pembabatan hutan
menyumbang 20% emisi gas rumah kaca.3 Seperti kita
ketahui, pohon menyerap karbon yang ada dalam atmosfer. Bila mereka
ditebang atau dibakar, karbon yang pernah mereka serap sebagian besar
justru akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Maka, pikir seribu kali
sebelum menebang pohon di sekitar Anda.
- Bepergian
yang Ramah Lingkungan Cobalah untuk
berjalan kaki, menggunakan telekonferensi untuk rapat, atau pergi
bersama-sama dalam satu mobil. Bila memungkinkan, gunakan kendaraan yang
menggunakan bahan bakar alternatif. Setiap 1 liter bahan bakar fosil
yang dibakar dalam mesin mobil menyumbang 2,5 kg CO2.1 Bila
jaraknya dekat dan tidak terburu waktu, Anda bisa memilih kereta api
daripada pesawat. Menurut IPCC, penerbangan dengan pesawat menyumbang 3-5%
gas rumah kaca.
- Kurangi
Belanja Industri
menyumbang 20% gas emisi rumah kaca dunia dan kebanyakan berasal dari
penggunaan bahan bakar fosil. Jenis industri yang membutuhkan banyak bahan
bakar fosil sebagai contohnya besi, baja, bahan-bahan kimia, pupuk, semen,
gelas, keramik, dan kertas.3 Oleh karena itu, jangan cepat
membuang barang, lalu membeli yang baru. Setiap proses produksi barang
menyumbang CO2.
- Beli
Makanan Organik Tanah organik
menangkap dan menyimpan CO2lebih besar dari pertanian
konvensional. The Soil Association menambahkan bahwa produksi secara
organik dapat mengurangi 26% CO2 yang disumbang oleh
pertanian.
- Gunakan
Lampu Hemat Energi Bila Anda
mengganti 1 lampu di rumah Anda dengan lampu hemat energi, Anda dapat
menghemat 400 kg CO2 dan lampu hemat energi 10 kali lebih
tahan lama daripada lampu pijar biasa
- Daur
Ulang Sampah Organik Tempat Pembuangan
Sampah (TPA) menyumbang 3% emisi gas rumah kaca melalui metana yang
dilepaskan saat proses pembusukan sampah. Dengan membuat pupuk kompos dari
sampah organik (misal dari sisa makanan, kertas, daun-daunan) untuk kebun
Anda, Anda bisa membantu mengurangi masalah ini
- Pisahkan
Sampah Kertas, Plastik, dan Kaleng agar Dapat Didaur Ulang Mendaur
ulang aluminium dapat menghemat 90% energi yang dibutuhkan untuk
memproduksi kaleng aluminium yang baru :9 kg CO2 per
kilogram aluminium! Untuk 1 kg plastik yang didaur ulang, Anda menghemat
1,5 kg CO2, untuk 1 kg kertas yang didaur ulang, Anda menghemat
900 kg CO2.
Daftar
Pustaka