Kamis, 04 April 2013

Review Jurnal Rumput Laut Sebagai Bioremediasi


Secara geografi ekosistem perairan payau dan perairan pantai sangat berpeluang menjadi tempat penumpukan limbah yang berasal dari kegiatan sepanjang pantai dan kegiatan yang berasal dari sebelah hulu. Dampak pencemaran dibagian hulu yang dihubungkan oleh aliran sungai, dapat segera dirasakan dampaknya oleh ekosistem perairan payau dan perairan pantai yang berada dibagian hilir sungai tersebut. Permasalahan ini sudah sering terjadi, sebagaimana dikemukakan oleh berbagai media cetak maupun elektronik.  Hal tersebut, tentunya tidak bisa dibiarkan terus, diperlukan beberapa langkah upaya penanggulangan dan pemulihan dengan mencoba melakukan pemilihan system dan teknologi pengelolaan limbah.
Dari aspek biologi, sebenarnyabanyak pilihan flora fauna untuk dimanfaatkan baik sebagai biofilter, bioakumulator maupun sebagai agen biomonitoring pencemaran yang terjadi di perairan.  Namun karena kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang sangat menonjol, baik terhadap perbedaan salinitas, cahaya matahari maupun perubahan suhu yang tinggi, maka jenis rumput laut ini menjadi pilihan yang sangat relevan.
Kehadiran rumput laut dalam budidaya perairan akan membentuk struktur komunitas baru yang dapat memperkuat fungsi komponen autotrof. Melalui fotosintesis, komponen autotrof dapat meningkatkan kualitas air tambak dengan jalan meningkatkan produksi oksigen dan pH perairan, serta menurunkan konsentrasi amonia, nitrit dan nitrat. Sementara itu, kemampuan rumput laut dalam menyerap nutrisi diperkirakan dapat meningkatkan jumlah energi yang dapat dihasilkan dari perairan tersebut.
Menurut Odum (1989), kehadiran tumbuhan akuatik dapat mendukung perkembangan komponen lain dalam suatu ekosistem, sehingga akan menghasilkan jaring makanan yang lebih kompleks, pola daur ulang materi dan mekanisme pengendalian populasi, sehingga akan menghasilkan lebih banyak sumber daya dan meningkatkan efisiensi aliran materi dalam budidaya. Menurut Jongsong dan Honglu (1989), susunan budidaya yang dibentuk melalui rekayasa ekologis dapat menghasilkan struktur komunitas biotik yang lebih lengkap, sehingga dapat terjadi interaksi antar komponen budidaya yang lebih kompleks. Dengan demikian, siklus materi dalam budidaya dapat berlangsung secara berlapis ("multilayer") dan bertahap.


Hubungan Antara Rumput Laut Dengan Aspek AMDAL Pesisir Dan Laut (Bioremidias Nutrient)
            Fitoremediasi adalah suatu teknologi pemanfaatan tumbuhan untuk mengurangi bahkan menghilangkan kehadiran bahan pencemar didalam tanah dan air. Fitoremediasi menjadi pilihan yang menjanjikan, mengingat tidak membutuhkan biaya yang besar dan secara estetik mendukung upaya penghijauan lingkungan. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kegiatan pembangunan di badan air, khususnya di perairan pantai, teknologi fitoremediasi dilakukan dengan memanfaatkan tanaman yang memiliki kemampuan menyimpan atau mengakumulasikan didalam selnya (fitoekstraksi)(Black,1995) dan kemampuan memetabolisma (fitodegradasi) bahan pencemar untuk kebutuhan energi dan pertumbuhan (Boyajian dan Carriera, 1997).
            Salah satu tanaman yang terpilih sebagai agen fitoremediasi adalah rumput laut Glacilaria sp. Rumput laut ini selain memiliki daya akumulasi yang tinggi terhadap nitrogen sehingga disebut “Nitrogen Starved Glacilaria” juga mampu memanfaatkan limbah bahan organik sebagai sumber nutrient tersebut untuk kebutuhan energi dan pertumbuhan.
            Dengan sifat fitoekstraksi didnding thalus Glacilariamengasorbsi dan menyimpan bahan organik seperti Nitrogen dan Pospor di dalam sel-sel thallus. Selanjutnya, limbah bahan organik yang tersimpan pada sel rumput laut, pada saatnya akan didegradasi dengan bantuan fotosintesis sinar matahari akan diasimilasi sehingga terbentuk energi dan sel sebagai refleksi dari pertumbuhan rumpun tanaman rumput laut tersebut (Boyajian dan Carriera, 1997).
            Integrasi rumput laut dalam upaya pemulihan kualitas air akibat pencemaran ekosistem laut, dapat dilakukan dengan berbagai jenis teknologi baik dengan teknologi sederhana maupun sistem kompleks. Dengan menekankan kepada alasan ekonomi maka diharapkan integrasi rumput laut sebagai biofilter akan sangat efektif dampaknya bagi lingkungan pesisir.
            Dari hasil penelitian yang dilakukan, di temukan bahwa rumput laut memiliki kemampuan dalam menyerap nitrogen dan pospor. Salah satu sumber menyebutkan bahwa kemampuan rumput laut dalam menyerap nitrogen dalam air yang tercemar bahan organik mencapai konsentrasi 0,4 gram N per m2 per hari. Bahkan didalam Jones (2002), rumput laut tersebut dengan cepat mampu mereduksi kandungan nutrient terlarut di perairan lepas pantai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar