Secara
geografi ekosistem perairan payau dan perairan pantai sangat berpeluang menjadi
tempat penumpukan limbah yang berasal dari kegiatan sepanjang pantai dan kegiatan
yang berasal dari sebelah hulu. Dampak pencemaran dibagian hulu yang dihubungkan
oleh aliran sungai, dapat segera dirasakan dampaknya oleh ekosistem perairan
payau dan perairan pantai yang berada dibagian hilir sungai tersebut. Permasalahan
ini sudah sering terjadi, sebagaimana dikemukakan oleh berbagai media cetak
maupun elektronik. Hal tersebut, tentunya
tidak bisa dibiarkan terus, diperlukan beberapa langkah upaya penanggulangan dan
pemulihan dengan mencoba melakukan pemilihan system dan teknologi pengelolaan
limbah.
Dari
aspek biologi, sebenarnyabanyak pilihan flora fauna untuk dimanfaatkan baik
sebagai biofilter, bioakumulator maupun sebagai agen biomonitoring pencemaran
yang terjadi di perairan. Namun karena
kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang sangat menonjol, baik
terhadap perbedaan salinitas, cahaya matahari maupun perubahan suhu yang
tinggi, maka jenis rumput laut ini menjadi pilihan yang sangat relevan.
Kehadiran
rumput laut dalam budidaya perairan akan membentuk struktur komunitas baru yang
dapat memperkuat fungsi komponen autotrof. Melalui fotosintesis, komponen
autotrof dapat meningkatkan kualitas air tambak dengan jalan meningkatkan
produksi oksigen dan pH perairan, serta menurunkan konsentrasi amonia, nitrit
dan nitrat. Sementara itu, kemampuan rumput laut dalam menyerap nutrisi
diperkirakan dapat meningkatkan jumlah energi yang dapat dihasilkan dari
perairan tersebut.
Menurut
Odum (1989), kehadiran tumbuhan akuatik dapat mendukung perkembangan komponen lain
dalam suatu ekosistem, sehingga akan menghasilkan jaring makanan yang lebih
kompleks, pola daur ulang materi dan mekanisme pengendalian populasi, sehingga
akan menghasilkan lebih banyak sumber daya dan meningkatkan efisiensi aliran
materi dalam budidaya. Menurut Jongsong dan Honglu (1989), susunan budidaya
yang dibentuk melalui rekayasa ekologis dapat menghasilkan struktur komunitas
biotik yang lebih lengkap, sehingga dapat terjadi interaksi antar komponen
budidaya yang lebih kompleks. Dengan demikian, siklus materi dalam budidaya
dapat berlangsung secara berlapis ("multilayer") dan bertahap.
Hubungan
Antara Rumput Laut Dengan Aspek AMDAL Pesisir Dan Laut (Bioremidias Nutrient)
Fitoremediasi adalah suatu teknologi pemanfaatan tumbuhan
untuk mengurangi bahkan menghilangkan kehadiran bahan pencemar didalam tanah
dan air. Fitoremediasi menjadi pilihan yang menjanjikan, mengingat tidak
membutuhkan biaya yang besar dan secara estetik mendukung upaya penghijauan
lingkungan. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kegiatan pembangunan di badan
air, khususnya di perairan pantai, teknologi fitoremediasi dilakukan dengan
memanfaatkan tanaman yang memiliki kemampuan menyimpan atau mengakumulasikan
didalam selnya (fitoekstraksi)(Black,1995) dan kemampuan memetabolisma
(fitodegradasi) bahan pencemar untuk kebutuhan energi dan pertumbuhan (Boyajian
dan Carriera, 1997).
Salah satu
tanaman yang terpilih sebagai agen fitoremediasi adalah rumput laut Glacilaria
sp. Rumput laut ini selain memiliki daya akumulasi yang tinggi terhadap
nitrogen sehingga disebut “Nitrogen Starved Glacilaria” juga mampu memanfaatkan
limbah bahan organik sebagai sumber nutrient tersebut untuk kebutuhan energi
dan pertumbuhan.
Dengan sifat
fitoekstraksi didnding thalus Glacilariamengasorbsi dan menyimpan bahan organik
seperti Nitrogen dan Pospor di dalam sel-sel thallus. Selanjutnya, limbah bahan
organik yang tersimpan pada sel rumput laut, pada saatnya akan didegradasi
dengan bantuan fotosintesis sinar matahari akan diasimilasi sehingga terbentuk
energi dan sel sebagai refleksi dari pertumbuhan rumpun tanaman rumput laut
tersebut (Boyajian dan Carriera, 1997).
Integrasi
rumput laut dalam upaya pemulihan kualitas air akibat pencemaran ekosistem
laut, dapat dilakukan dengan berbagai jenis teknologi baik dengan teknologi
sederhana maupun sistem kompleks. Dengan menekankan kepada alasan ekonomi maka
diharapkan integrasi rumput laut sebagai biofilter akan sangat efektif
dampaknya bagi lingkungan pesisir.
Dari hasil
penelitian yang dilakukan, di temukan bahwa rumput laut memiliki kemampuan
dalam menyerap nitrogen dan pospor. Salah satu sumber menyebutkan bahwa
kemampuan rumput laut dalam menyerap nitrogen dalam air yang tercemar bahan
organik mencapai konsentrasi 0,4 gram N per m2 per hari. Bahkan didalam Jones
(2002), rumput laut tersebut dengan cepat mampu mereduksi kandungan nutrient
terlarut di perairan lepas pantai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar