EKOLOGI
Rumput laut hidup dengan cara menyerap zat makanan
dari perairan dan melakukan fotosintesis. Jadi pertumbuhannya membutuhkan faktor-faktor
fisika dan kimia perairan seperti gerakan air, suhu, kadar garam, nitrat, dan
fosfat serta pencahayaan matahari (Atmadja, et al., 1996)
Menurut
Nybakken (1992), rumput laut tumbuh melekat pada substrat yang keras, yang
senanatiasa mendapat cahaya matahari. Pada perairan jernih rumput laut dapat
hidup kedalaman 20-30 meter.Rumput laut ini memperoleh makanan berupa nutrient
langsung dari air laut.Akibat peristiwa upwelling dan turburensi, nutrient
tersebut menjadi tersedia di kolam air.Sekitar 10% dari produktivitas bersih
rumput laut memasuki jaringan-jaringan makanan dalam bentuk detritus atau bahan
organik terlarut.
Penyebaran
rumput laut pertama kali ditemukan hidup secara alami, dan keberadaannya dapat
dijumpai di paparan terumbu karang dan goba dengan kedalamaan 1 -100 meter.
Parameter ekologis
yang perlu diperhatikan antara lain: arus, kondisi dasar perairan, kedalaman,
kadar garam, kecerahan, ketersediaan bibit dan organisme pengganggu.
a) Arus;
Gerakan airakan membawa unsur
hara, menghilangkan kotoran yang menempel pada thallus, membantu pengudaraan,
dan mencegah adanya fluktuasi suhu air yang besar. Indikator suatu lokasi yang
memiliki arus yang baik adalah adanya pertumbuhan karang lunak dan padang lamun
yang bersih dari kotoran dan cenderung miring ke satu arah. Arus merupakan
gerakan mengalir suatu masa air yang dapat disebabkan oleh tiupan angin,
perbedaan densitas air laut dan pasang surut yang bergelombang panjang dari
laut terbuka. Kecepatanarus yang baik adalah 20-40 cm/detik dengan suhu
berkisar 20-28oC dan pH berkisar 7,3-8,2
b) Dasar
Perairan; Dasar perairan yang
sesuai adalah berupa pecahan-pecahan karang dan pasir kasar.Kondisi perairan
tersebut juga merupakan indikator kejernihan air yang relatif baik memiliki
adanya gerakan air yang baik.Dasar perairan yang didominasi oleh lumpur dapat
mengakibatkan kekeruhan yang tinggi. Dasar perairan yang hanya terdiri dari
pasir menunjukkan pergerakan air yang sedikit, dan lumpur menunjukkan
pergerakan air yang lebih rendah lagi. Perairan dengan dasar karang ataupun
karang mati
c) Kedalaman; Kedalaman perairan sangat tergantung dari metode budi
daya yang akan dipilih. Metode lepas dasar dilakukan pada kedalaman perairan
tidak kurang dari 30-60 cm pada waktu surut terendah, sedangkan metode rakit
apung, rawai dan jalur pada perairan dengan kedalaman sekitar 2-15 m.
d) Kadar
Garam; K. alvarezii
merupakan rumput laut yang relatif tidak tahan terhadap kisaran kadar garam
yang luas. Kadar garam yang sesuai untuk pertumbuhannya adalah berkisar 28-35
ppt. Penurunan salinitas akibat masuknya air tawar akan menyebabkan pertumbuhan
Eucheuma spp menjadi tidak normal. Untuk memperoleh perairan dengan kondisi
salinitas tersebut harus dihindari lokasi yang berdekatan dengan muara sungai.
Soegiarto et al. (1978) menyatakan kisaran salinitas yang baik untukE u che u
ma sp adalah 32 - 35 ppt.
e) Kecerahan; Lokasi budi daya rumput laut sebaiknya pada perairan
yang jernih atau tingkat kecerahan yang tinggi sekitar 2-5 m. Air keruh
mengandung lumpur dapat menghalangi cahaya matahari ke dalam air serta dapat
menutupi permukaan thallus yang dapat menyebabkan thallus membusuk sehingga
mudah patah.
f) Ketersediaan
Bibit; Bibit rumput laut
yang berkualitas sebaiknya tersedia di sekitar lokasi yang dipilih, baik yang
bersumber dari alam maupun dari budi daya. Apabila di lokasi tersebut tidak
tersedia bibit maka sebaiknya didatangkan dari daerah terdekat dengan
memperhatikan kaidah-kaidah penanganan bibit dan pengangkutan yang baik
g) Organisme
Pengganggu; Lokasi budidaya
diusahakan pada perairan yang tidak banyak terdapat organisme pengganggu
misalnya ikan beronang, bintang laut, bulu babi dan penyu serta tanaman
penempel
Areal yang baik adalah areal dengan dasar pasir kasar
bercampur denga potongan karang.kedalaman yang lebi ideal adalah 60 cm - 80 cm,
selama pasang surut yang terendah. fakor lain yang dalam ekologi rumput laut
adalah transparansi Ph, sumber air tawar dan temperatur.Secara umum dapat
disimpulkan bahwa ekologi yang tepat untuk pertumbuhan rumput laut adalah
sebagai berikut :
1.
Adanya
bibit
2.
Habitat
terlindung dari arus dan ombak yang kuat
3.
Kedalaman
pada pasang surut terendah antara 0,30 - 1 meter.
4.
Keadaan
air cukup jernih
5.
Salinitas
sekitar 27 - 30 per mil
6.
Jauh
dari sumber air awar
7.
Suhu
perairan antara 25 – 27o C
8.
Terdapat
pegerakan air yang baik, sehingga mempermudah transportasi serta percampuran
nutrisi
Ekologi merupakan salah satu faktor yang cukup besar
pengaruhnya terhadap pertumbuhan rumput laut, hal ini dimaklumi karena di dalam
masalah ekologi termasuk pemilihan lokasi yang memenuhi syarat untuk
pertumbuhan rumput laut secara ideal. Berikut adalah contoh persyaratan untuk tumbuhnya beberapa species
rumput laut :
A. Eucheuman
Secara alami rumput laut jenis Eucheuma memerlukan
beberapa syarat untuk tumbuh dengan baik, diantaranya adalah :
·
Dasar
perairan berupa pasir kasar bercampur pecahan-pecahan koral.
·
Keadaan
air cukup jernih, kecerahan tinggi.
·
Salinitas
antara 27 - 34 per mil
·
Suhu
air sekitar 25 - 27o C
·
Terdapat
pergerakan air yang cukup baik.
·
Kedalaman
pada pasang surut terendah antara 0,30 - 1 meter.
·
Tempat
terlindung dari arus dan ombak yang kuat
·
Jauh
dari sumber air tawar
·
Perairaan
bebas dari populasi baik limbah domestik maupun limbah industri.
B. Gracilaria
sp.
Secara umum syarat-syarat untuk tumbuhnya rumput laut
jenis Gracilaria adalah sebagai berikut :
·
Tersedianya
sumber air tawar untuk menurunkan salinitas
·
Areal
terlindung dari angin, arus dan ombak
·
Perbedaan
pasang surut yang cukup sehingga memudahkan pergantian air
·
Dasar
perairan terdiri dari pasir dan lumpur
·
Temperatur
optimum berkisar antara 20 - 28o C
·
PH
air antara 6 dan 9 dengan nilai optimum 8,2 - 8,7
·
Kedalaman
sekitar 30 cm selama bulan-bulan berawan, dan 60 cm selama bulan-bulan tak
berawan.
C. Caulerpa
sp.
Persyaratan ekologi untuk tumbuhnya rumput laut jenis Caulerpa sp. ini adalah :
·
Areal
terlindung dari pengaruh angin dan ombak
·
Areal
harus bebas dari populasi
·
Substrat
terdiri dari clay-loan
·
Salinitas
antara 30 32 per mil
·
Temperatur
air berkisar antara 27 - 32 C
·
Kedalaman
antara 60 - 100 cm (tergantung pada kekeruhan air)
·
Pond-level
sedikit di bawah garis nol dari pasang
·
PH
optimum 7 – 8
Pada
perairan kepulauan di Indonesia rumput laut dijumpai di perairan yang
berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang.Rumput laut di alam
biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Di beberapa daerah
pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera, rumput laut banyak ditemui hidup di atas
karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak.
Di
pantai selatan Jawa Barat dan Banten misalnya, rumput laut dapat ditemui di sekitar pantai Santolo
dan Sayang Heulang di Kabupaten Garut atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten
Pandeglang. Sementara di daerah pantai barat Sumatera, rumput laut dapat ditemui di pesisir barat Provinsi
Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.
Selain hidup bebas di
alam, beberapa jenis rumput laut juga
banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia. Contoh jenis
rumput laut yang banyak dibudidayakan di
antaranya adalah Euchema cottonii dan Gracilaria sp. Beberapa daerah dan pulau
di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan usaha budidaya
rumput laut ini di antaranya berada di
wilayah pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Kepulauan
Riau, Pulau Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Rumput laut atau Algae laut tumbuh hampir diseluruh
bagian hidrosfer sampai batas kedalaman sinar matahari masih dapat mencapainya.
Beberapa jenis rumput laut hidupnya kosmopolit, mendunia. Rumput laut hidup
sebagai fitobenthos dengan menancapkan atau melekatkan dirinya pada substrat
lumpur, pasir, karang, fragmen karang mati, batu , kayu dan benda keras
lainnya. Ada pula yang menempel pada tumbuhan lain secara epifitik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar