Pemeliharaan dan aplikasi TON (Tambak Organik
Nusantara) susulan.
Selama budidaya, harus dilakukan pengawasan secara
kontinyu. Khusus untuk budidaya di tambak harus dilakukaan minimal 1 – 2 minggu
setelah penebaran bibit, hal ini untuk mengontrol posisi rumput laut yang ditebar.
Biasanya karena pengaruh angin, bibit akan mengumpul di areal tertentu, jika
demikian harus dipisahkan dan ditebar merata lagi di areal tambak. Kotoran
dalam bentuk debu air (lumpur terlarut/ suspended solid) sering melekat pada
tanaman, apalagi pada perairan yang tenang seperti tambak. Pada saat itu, maka
tanaman harus digoyang – goyangkan di dalam air agar tanaman selalu bersih dari
kotoran yang melekat. Kotoran ini akan mengganggu metabolisme rumput laut.
Beberapa tumbuhan laut seperti Ulva, Hypea, Chaetomorpha, dan Enteromorpha
sering membelit tanaman. Tumbuhan – tumbuhan tersebut harus segera disingkirkan
dan dipisahkan dari rumput laut agar tidak menurunkan kualitas hasil. Caranya
dengan mengumpulkannya di darat. Bulu babi, ikan dan penyu merupakan hewan
herbivora yang harus dicegah agar tidak memangsa rumput laut. Untuk menghindari
itu biasanya dipasang jaring disekeliling daerah budidaya. Untuk budidaya di
tambak di lakukan dengan memasang jaring di saluran pemasukan dan pengeluaran.
Pemanenan
Pada tahap pemanenan ini harus diperhatikan cara dan
waktu yang tepat agar diperoleh hasil yang sesuai dengan permintaan pasar
secara kualitas dan kuantitas. Tanaman dapat dipanen setelah umur 6 – 8 minggu
setelah tanam. Cara memanen adalah dengan mengangkat seluruh tanaman rumput
laut ke darat. Rumput laut yang dibudidayakan di tambak dipanen dengan cara
rumpun tanaman diangkat dan disisakan sedikit untuk dikembangbiakkan lebih
lanjut. Atau bisa juga dilakukan dengan cara petik dengan memisahkan cabang –
cabang dari tanaman induknya, tetapi cara ini akan berakibat didapatkannya
sedikit keraginan dan pertumbuhan tanaman induk untuk budidaya selanjutnya akan
menurun. Jika rumput laut dipanen pada usia sekitar satu bulan, biasanya akan
diperoleh perbandingan berat basah dan berat kering 8 : 1, dan jika dipanen
pada usia dua bulan biasanya akan didapat perbandingan 6 : 1. Untuk jenis
gracilaria biasanya diperoleh hasil panen sekitar 1500 – 2000 kg rumput laut
kering per- hektarnya. Diharapkan dengan penggunaan TON (Tambak
Organik Nusantara) akan meningkat sekitar 30 – 100 %.
Dalam sistematik tumbuh-tumbuhan pada tahun 1838 Unger’s memasukkan
tumbuhan algae kedalam divisi Thallophyta, yaitu tumbuhan yang mempunyai
struktur kerangka tubuh yang tidak berdaun, berbatang dan berakar, semua
terdiri dari batang (thallus). Dalam divisi Thallophyta ini juga termasuk jamur
(fungi) dan lumut kerak (lichenes).
Divisi Thallophyta diangkat menjadi 7 fila oleh Round (1965), yaitu
Eugleunophyta, Chlorophyta, Chrysophyta, Pyrrophyta, Phaeophyta, Rhodophyta dan
Cryptophyta. Untuk menentukan divisi dan mencirikan kemungkinan hubungan
filogenetik diantara kelas secara khas dipakai komposisi plastida pigmen,
persediaan karbohidrat dan komposisi dinding sel.
Rumput laut atau Algae laut tumbuh hampir diseluruh bagian
hidrosfer sampai batas kedalaman sinar matahari masih dapat mencapainya.
Beberapa jenis rumput laut hidupnya kosmopolit, mendunia. Rumput laut hidup
sebagai fitobenthos dengan menancapkan atau melekatkan dirinya pada substrat
lumpur, pasir, karang, fragmen karang mati, batu , kayu dan benda keras
lainnya. Ada pula yang menempel pada tumbuhan lain secara epifitik.
Faktor oseanografis (fisika, kimia dan dinamika) dan macam substrat
sangatlah menentukan pertumbuhan rumput laut. Sinar matahari adalah faktor
utama yang diperlukan untuk kehidupan rumput laut. Pada kedalaman yang tidak
terjangkau sinar matahari tidak memungkinkan rumput laut dapat hidup. Nutrisi
dalam proses kehidupan diperoleh dari media air laut yang diserap secara difusi
oleh thallus rumput laut. Iklim dan letak geografis sangat menentukan
jenis rumput laut yang dapat tumbuh.
Dari hasil fotosintesa rumput laut menghasilkan beberapa zat yang
penting dan mempunyai nilai ekonomis. Rumput laut merah (Rhodophyceae)
menghasilkan floridin starch,
mannoglycerate dan floridosida. Lebih spesifik
lagi dikenal dengan polisakarida berupa agar-agar dan karaginan. Rumput laut
cokelat (Phaeophyceae) menghasilkan alginat. Rumput laut hijau (Chlorophyceae)
menghasilkan kanji dan lemak.
Perkembangbiakan rumput laut pada dasarnya ada dua macam, yaitu
secara kawin (generatif) antara gamet jantan dengan gamet betina dan
secara tidak kawin dengan cara vegetatif, konjugatif dan perseporaan .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar