Jumat, 16 November 2012

Biologi Rumput Laut


BIOLOGI
Struktur Tubuh Rumput Laut secara taksonomi rumput laut tergolong dalam tanaman tingkat rendah yang masuk dalam divisi Thallophyta Berdasarkan kandungan pigmennya , thallophyta dikelompokkan menjadi empat kelas . Dari segi morfologi , antara akar , batang dan daun tidak bisa dibedakan .
Bentuknya hanya menyerupai batang yang disebut thallus . Thalli ini ada yang tersusun uniseluler ( satu sel )berbentuk benang atau pita atau ada yang multiseluler ( banyak sel )bersel banyak berbentuk lembaran.Dalam perairan rumput laut merupakan penyusun fitoplankton yang biasanya melayang – layang didalam air, tetapi juga dapat hidup melekat didasar perairan disebut neustonik

Thallus
Percabangan thallus ada yang dichotomous (bercabang dua terus menerus), pectinate (berderet searah pada satu sisi thallus utama), pinnate (bercabang dua-dua pada sepanjang thallus utama secara berselang-seling), ferticillate (cabangnya berpusat melingkari aksis atau sumbu utama) dan ada juga yang sederhana, tidak bercabang.Sifat substansi thalli juga beraneka ragam, ada yang lunak seperti gelatin (gellatinous), keras diliputi atau mengandung zat kapur (calcareous), lunak seperti tulang rawan (cartilagenous), berserabut (spongious) dan lain sebagainya (Aslan, 1998).
Rumput laut termasuk kelompok tumbuhan alga yang berukuran besar, dalam artian dapat terlihat dengan mata biasa tanpa alat pembesar dan bersifat bentik atau tumbuh menancap atau menempel pada suatu substrat di perairan laut. Alga yang disebut rumput laut ini umumnya terdiri dari :
1. Kelompok alga merah (Rhodophyceae)
2. Kelompok alga coklat (Phaeophyceae)
3. Kelompok alga hijau (Chlorophyceae).
Ketiga kelompok ini yang tumbuh di laut diperkirakan ada sekitar 9000 jenis yang masing-masing adalah sekitar 6000 jenis Rhodophyceae, 2000 jenis Phaeophyceae dan 1000 jenis Chlorophyceae. Alga lainnya yang berukuran kecil dan hanya terlihat dengan bantuan alat pembesar seperti mikroskop tidak termasuk ke dalam kelompok rumput laut tetapi merupakan kelompok tersendiri yang disebut plankton.Kelompok ini selain kecil ukurannya juga gerakannya sangat dipengaruhi pergerakan air sehingga keberadaannya sebagian besar bergantung kepada kondisi fisik perairan selain faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap pertumbuhannya. Rumput laut  yang bersifat bentik digolongkan lagi menjadi;
a. Epilitik ( hidup diatas batu)
b. Epipalik (melekat pada lumpur atau pasir)
c. Epipitik ( melekat pada tanaman )
d. Epizoik ( melekat pada hewan).

Pigmen
Rumput laut memiliki pigmen hijau daun yang disebut klorofil sehingga dapat melakukan fotosintesis. Selain itu juga memiliki pigmen – pigmen tambahan lain yang dominan. Dalam thallus rumput laut juga terdapat pigmen yang digunakan untuk membedakan kelas dari masing-masing rumput laut. Pigmen yang menentukan warna pada rumput laut adalah klorofil (hijau) karoten (keemasan), phycoerythrin (merah) dan phycocyanin(biru),  fikosantin ( perang/ coklat ) dan xantofil (warna kuning).yang merupakan pigmen utama disamping pigmen-pigmen yang lainnya.

Reproduksi
 Pada tanaman rumput laut dikenal tiga macam pola reproduksi, yaitu:
a.         Reproduksi generatif (seksual) dengan gamet,
b.         Reproduksi vegetatif (aseksual) dengan spora, dan
c.         Reproduksi fragmentasi dengan potongan thallus (stek).
Pergiliran keturunan antara seksual dengan aseksual merupakan pembiakan  alami yang terjadi pada tanaman rumput laut, sedangkan pembiakan secara stek biasanya banyak dilakukan dalam usaha pembudidayaan rumput laut.
1. Reproduksi Seksual
     Proses reproduksi seksual pada makroalga (termasuk rumput laut) pada umumnya berlangsung secara anisogami dan oogami yang mana keduanya lazim pula disebut heterogami. Pada makroalga termasuk rumput laut, gamet-gametnya dihasilkan oleh organ-organ khusus gametangia yang terdiri atas dua macam yaitu spermatangia (antheridium) yang menghasilkan sperma, dan oogonium yang menghasilkan sel telur (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003).
Sperma dan sel telur masing-masing memliki bentuk, ukuran, dan motilitas yang berbeda.Sperma umumnya ukurannya lebih kecil, berflagela dan tidak dapat bergerak.Namun demikian, pada alga merah (Rhodophyta), spermanya tidak berflagela dan dapat bergerak secara ameboid dan disebut spermatia.Spermatia dihasilkan didalam gametangia kecil yang disebut spermatangia.Sementara itu, oogonium pada alga merah berbentuk tonjolan yang disebut trichogyne yang merupakan tempat untuk menerima gamet jantan (sperma).Oogonium pada alga merah lazim disebut Carpogonium, (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003).
  Pembentukan gamet jantan (sperma) dan gamet betina (ovum) dalam suatu proses perkawinan memiliki dua pola yaitu: 1) monoecious yaitu bilamana sperma dan ovum berasal dari satu individu; 2) dioecious yaitu bilamana sperma dan ovum masing-masing  berasal dari individu yang berbeda. Alga-alga yang melakukan melakukan perkawinan secara monoecious biasanya disebut alga homothallus, sedangkan alga-alga yang melakukan perkawinan secara dioecious biasanya disebut alga heterothallus (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003).
Alga memiliki tiga pola siklus hidup secara seksual.Pada pola siklus hidup yang pertama terdapat satu tipe individu yang hidup bebas yang bersifat haploid.Dalam hal ini terjadi pembentukan gamet pada alga yang telah matang. Gamet-gamet ini kemudian akan menyatu membentuk zigot yang bersifat diploid dan dapat mengalami dormansi. Bilamana saatnya tiba (kondisi baik), zigot ini dapat berkecambah, dan pada saat ini intinya mengalami meiosis sehingga menghasilkan zoospora, alpanospora atau juvenile yang seperti dengan alga dewasa dan bersifat haploid. Pola siklus hidup yang pertama ini disebut pula haplobiontik dan dilambangkan dengan symbol H,h dan banyak terjadi pada alga hijau (Chlorophyta) (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003).
Pada pola sikus hidup yang kedua, satu tipe individu alga yang hidup bebas bersifat diploid.Dalam hal ini meiosis terjadi pada saat pembentukan gamet (gametogenesis) sehingga gamet bersifat haploid, sedangkan individunya bersifat diploid. Pada siklus hidup seperti ini dilambangkan dengan H,d. Individu yang bersifat diploid dapat memperbanyak diri dengan aseksual. Contoh alga yang memiliki pola siklus hidup seperti ini adalah alga hijau yang berbentuk tabung, dan alga batu (Fucales) dari divisi Phaeophyta (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003). Berikut disajikan bagan daur hidup reproduksi haplobiontik diploid (H,d).
Pada pola siklus hidup yang ketiga terdapat dua tipe individu yang hidup bebas yaitu individu pengahasil gamet (gametofit) yang bersiofat haploid dan individu penghasil spora (sporofit) yang bersifat diploid.Gamet-gamet yang dihasilkan dapat menyatu membentuk zigot yang tidak mengalami masa dormansi.Zigot ini kemudian tumbuh menjadi sporofit yang bersifat diploid.Dalam hal ini, meiosis terjadi pada saat pembentukan spora (sporogenesis), Spora yang dihasilkan bersifat haploid dan kemudian berkembang menjadi gametofit. Baik sporofit maupun gametofit masing-masing dapat memperbanyak dirinya dengan cara aseksual. Pola siklus hidup seperti ini dikenal dengan diplobiontik yang dilambangkan dengan symbol D,h+d, dan banyak terjadi pada alga merah (Rhodophyta). Siklus hidup diplobiontik ini ada dua macam, yaitu isomorphik dan heteromorphik.Dikatakan isomorphik bilamana gametofit dan sporofit memiliki kesamaan bentuk, sedangkan heteromorphik bilamana gametofit dan sporofit masing-masing bentuknya berbeda. Isomorphik dilambangkan dengan symbol Di,h+d, sedangkan heteromorphik dilambangkan dengan (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003). Berikt disajikan bagan tipe daur hidup repdoduksi seksual diplobiontik.
Reproduksi Seksual Alga memiliki tiga pola siklus hidup secara seksual yaitu :
1.    Tipe Daur Hidup Reproduksi Seksual Haplobiontik
2.    Tipe Daur Hidup Reproduksi Haplobiontik Diploid
3.    Tipe Daur Hidup Reproduksi Seksual Diplobiontik

2.    Reproduksi Aseksual
Pada alga, reproduksi aseksual berupa pembentukan suatu individu baru melalui perkembangan spora, pembelahan sel daan fragmentasi.Pembiakan dengan spora berupa pembentukan gametofit dari tertaspora yang dihasilkan dari tetrasporofit.Tipe pembiakan ini umunya terdapat dapa alga merah.Pada alga yang bersel satu, setiap individu mempunyai kemampuan untuk membelah diri dan membetuk individu baru.Pada alga multiseluler seperti Enteromorpha, Polysiphonia, Glacilaria, dan Eucheuma, potongan thallusnya mempunyai kemampuan berkembang meneruskan pertumbuhan (Aslan, 1998).

3. Reproduksi Fragmentasi dengan potongan thallus
Dalam usaha budidaya rumput laut, misalnya marga Eucheuma, Glacilaria, umumnya dilakukan dengan penyetekan sebagai bibit untuk dikembangbiakan secara produktif.Dalam hal ini rumpun thalli alga dibuat potongan-potongan dengan ukuran tertentu (30 – 50 gram) untuk dijadikan bibit.Bibit stek ini ditanam dengan mengikatkannya pada benang-benang nilon diperairan dengan jarak tertentu atau pada rak apung.Pertumbuhannya dapat dilihat dengan bertambah besarnya bibit tersebut.Cepat atau lambatnya pertumbuhan tergantung pada jenis rumput laut dan mutu lingkungan penanaman (Aslan, 1998).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar