BIOLOGI
Struktur
Tubuh Rumput Laut secara taksonomi rumput laut tergolong dalam tanaman tingkat
rendah yang masuk dalam divisi Thallophyta Berdasarkan kandungan pigmennya ,
thallophyta dikelompokkan menjadi empat kelas . Dari segi morfologi , antara
akar , batang dan daun tidak bisa dibedakan .
Bentuknya
hanya menyerupai batang yang disebut thallus . Thalli ini ada yang tersusun
uniseluler ( satu sel )berbentuk benang atau pita atau ada yang multiseluler (
banyak sel )bersel banyak berbentuk lembaran.Dalam perairan rumput laut
merupakan penyusun fitoplankton yang biasanya melayang – layang didalam air,
tetapi juga dapat hidup melekat didasar perairan disebut neustonik
Thallus
Percabangan
thallus ada yang dichotomous (bercabang dua terus menerus), pectinate (berderet
searah pada satu sisi thallus utama), pinnate (bercabang dua-dua pada sepanjang
thallus utama secara berselang-seling), ferticillate (cabangnya berpusat
melingkari aksis atau sumbu utama) dan ada juga yang sederhana, tidak
bercabang.Sifat substansi thalli juga beraneka ragam, ada yang lunak seperti
gelatin (gellatinous), keras diliputi atau mengandung zat kapur (calcareous),
lunak seperti tulang rawan (cartilagenous), berserabut (spongious) dan lain sebagainya
(Aslan, 1998).
Rumput
laut termasuk kelompok tumbuhan alga yang berukuran besar, dalam artian dapat
terlihat dengan mata biasa tanpa alat pembesar dan bersifat bentik atau tumbuh
menancap atau menempel pada suatu substrat di perairan laut. Alga yang disebut
rumput laut ini umumnya terdiri dari :
1.
Kelompok alga merah (Rhodophyceae)
2.
Kelompok alga coklat (Phaeophyceae)
3.
Kelompok alga hijau (Chlorophyceae).
Ketiga
kelompok ini yang tumbuh di laut diperkirakan ada sekitar 9000 jenis yang
masing-masing adalah sekitar 6000 jenis Rhodophyceae, 2000 jenis Phaeophyceae
dan 1000 jenis Chlorophyceae. Alga lainnya yang berukuran kecil dan hanya
terlihat dengan bantuan alat pembesar seperti mikroskop tidak termasuk ke dalam
kelompok rumput laut tetapi merupakan kelompok tersendiri yang disebut
plankton.Kelompok ini selain kecil ukurannya juga gerakannya sangat dipengaruhi
pergerakan air sehingga keberadaannya sebagian besar bergantung kepada kondisi
fisik perairan selain faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap
pertumbuhannya. Rumput laut yang
bersifat bentik digolongkan lagi menjadi;
a.
Epilitik ( hidup diatas batu)
b.
Epipalik (melekat pada lumpur atau pasir)
c.
Epipitik ( melekat pada tanaman )
d.
Epizoik ( melekat pada hewan).
Pigmen
Rumput
laut memiliki pigmen hijau daun yang disebut klorofil sehingga dapat melakukan
fotosintesis. Selain itu juga memiliki pigmen – pigmen tambahan lain yang
dominan. Dalam thallus rumput laut juga terdapat pigmen yang digunakan untuk
membedakan kelas dari masing-masing rumput laut. Pigmen yang menentukan warna
pada rumput laut adalah klorofil (hijau) karoten (keemasan), phycoerythrin (merah)
dan phycocyanin(biru), fikosantin (
perang/ coklat ) dan xantofil (warna kuning).yang merupakan pigmen utama
disamping pigmen-pigmen yang lainnya.
Reproduksi
Pada tanaman rumput laut dikenal tiga macam
pola reproduksi, yaitu:
a.
Reproduksi generatif
(seksual) dengan gamet,
b.
Reproduksi vegetatif
(aseksual) dengan spora, dan
c.
Reproduksi fragmentasi
dengan potongan thallus (stek).
Pergiliran
keturunan antara seksual dengan aseksual merupakan pembiakan alami yang terjadi pada tanaman rumput laut,
sedangkan pembiakan secara stek biasanya banyak dilakukan dalam usaha
pembudidayaan rumput laut.
1. Reproduksi Seksual
Proses reproduksi seksual pada makroalga
(termasuk rumput laut) pada umumnya berlangsung secara anisogami dan oogami
yang mana keduanya lazim pula disebut heterogami. Pada makroalga termasuk
rumput laut, gamet-gametnya dihasilkan oleh organ-organ khusus gametangia yang
terdiri atas dua macam yaitu spermatangia (antheridium) yang menghasilkan
sperma, dan oogonium yang menghasilkan sel telur (Bold dan Wynne, 1985 dalam
Swasta, 2003).
Sperma
dan sel telur masing-masing memliki bentuk, ukuran, dan motilitas yang
berbeda.Sperma umumnya ukurannya lebih kecil, berflagela dan tidak dapat
bergerak.Namun demikian, pada alga merah (Rhodophyta), spermanya tidak
berflagela dan dapat bergerak secara ameboid dan disebut spermatia.Spermatia dihasilkan
didalam gametangia kecil yang disebut spermatangia.Sementara itu, oogonium pada
alga merah berbentuk tonjolan yang disebut trichogyne yang merupakan tempat
untuk menerima gamet jantan (sperma).Oogonium pada alga merah lazim disebut
Carpogonium, (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003).
Pembentukan gamet jantan (sperma) dan gamet
betina (ovum) dalam suatu proses perkawinan memiliki dua pola yaitu: 1)
monoecious yaitu bilamana sperma dan ovum berasal dari satu individu; 2)
dioecious yaitu bilamana sperma dan ovum masing-masing berasal dari individu yang berbeda. Alga-alga
yang melakukan melakukan perkawinan secara monoecious biasanya disebut alga
homothallus, sedangkan alga-alga yang melakukan perkawinan secara dioecious
biasanya disebut alga heterothallus (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003).
Alga
memiliki tiga pola siklus hidup secara seksual.Pada pola siklus hidup yang
pertama terdapat satu tipe individu yang hidup bebas yang bersifat
haploid.Dalam hal ini terjadi pembentukan gamet pada alga yang telah matang.
Gamet-gamet ini kemudian akan menyatu membentuk zigot yang bersifat diploid dan
dapat mengalami dormansi. Bilamana saatnya tiba (kondisi baik), zigot ini dapat
berkecambah, dan pada saat ini intinya mengalami meiosis sehingga menghasilkan
zoospora, alpanospora atau juvenile yang seperti dengan alga dewasa dan
bersifat haploid. Pola siklus hidup yang pertama ini disebut pula haplobiontik
dan dilambangkan dengan symbol H,h dan banyak terjadi pada alga hijau
(Chlorophyta) (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003).
Pada
pola sikus hidup yang kedua, satu tipe individu alga yang hidup bebas bersifat
diploid.Dalam hal ini meiosis terjadi pada saat pembentukan gamet
(gametogenesis) sehingga gamet bersifat haploid, sedangkan individunya bersifat
diploid. Pada siklus hidup seperti ini dilambangkan dengan H,d. Individu yang
bersifat diploid dapat memperbanyak diri dengan aseksual. Contoh alga yang
memiliki pola siklus hidup seperti ini adalah alga hijau yang berbentuk tabung,
dan alga batu (Fucales) dari divisi Phaeophyta (Bold dan Wynne, 1985 dalam
Swasta, 2003). Berikut disajikan bagan daur hidup reproduksi haplobiontik
diploid (H,d).
Pada
pola siklus hidup yang ketiga terdapat dua tipe individu yang hidup bebas yaitu
individu pengahasil gamet (gametofit) yang bersiofat haploid dan individu
penghasil spora (sporofit) yang bersifat diploid.Gamet-gamet yang dihasilkan
dapat menyatu membentuk zigot yang tidak mengalami masa dormansi.Zigot ini
kemudian tumbuh menjadi sporofit yang bersifat diploid.Dalam hal ini, meiosis
terjadi pada saat pembentukan spora (sporogenesis), Spora yang dihasilkan
bersifat haploid dan kemudian berkembang menjadi gametofit. Baik sporofit
maupun gametofit masing-masing dapat memperbanyak dirinya dengan cara aseksual.
Pola siklus hidup seperti ini dikenal dengan diplobiontik yang dilambangkan
dengan symbol D,h+d, dan banyak terjadi pada alga merah (Rhodophyta). Siklus
hidup diplobiontik ini ada dua macam, yaitu isomorphik dan
heteromorphik.Dikatakan isomorphik bilamana gametofit dan sporofit memiliki
kesamaan bentuk, sedangkan heteromorphik bilamana gametofit dan sporofit
masing-masing bentuknya berbeda. Isomorphik dilambangkan dengan symbol Di,h+d,
sedangkan heteromorphik dilambangkan dengan (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta,
2003). Berikt disajikan bagan tipe daur hidup repdoduksi seksual diplobiontik.
Reproduksi
Seksual Alga memiliki tiga pola siklus hidup secara seksual yaitu :
1. Tipe Daur Hidup Reproduksi Seksual Haplobiontik
2. Tipe Daur Hidup Reproduksi Haplobiontik Diploid
3. Tipe Daur Hidup Reproduksi Seksual Diplobiontik
2. Reproduksi
Aseksual
Pada
alga, reproduksi aseksual berupa pembentukan suatu individu baru melalui
perkembangan spora, pembelahan sel daan fragmentasi.Pembiakan dengan spora
berupa pembentukan gametofit dari tertaspora yang dihasilkan dari
tetrasporofit.Tipe pembiakan ini umunya terdapat dapa alga merah.Pada alga yang
bersel satu, setiap individu mempunyai kemampuan untuk membelah diri dan
membetuk individu baru.Pada alga multiseluler seperti Enteromorpha,
Polysiphonia, Glacilaria, dan Eucheuma, potongan thallusnya mempunyai kemampuan
berkembang meneruskan pertumbuhan (Aslan, 1998).
3. Reproduksi Fragmentasi dengan potongan thallus
Dalam
usaha budidaya rumput laut, misalnya marga Eucheuma, Glacilaria, umumnya
dilakukan dengan penyetekan sebagai bibit untuk dikembangbiakan secara
produktif.Dalam hal ini rumpun thalli alga dibuat potongan-potongan dengan
ukuran tertentu (30 – 50 gram) untuk dijadikan bibit.Bibit stek ini ditanam
dengan mengikatkannya pada benang-benang nilon diperairan dengan jarak tertentu
atau pada rak apung.Pertumbuhannya dapat dilihat dengan bertambah besarnya
bibit tersebut.Cepat atau lambatnya pertumbuhan tergantung pada jenis rumput
laut dan mutu lingkungan penanaman (Aslan, 1998).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar